Oleh: rusli | November 1, 2009

Sumpah Tanah Putih untuk Bidadari

Hari Pemuda 28 Oktober kali ini diperingati KNPI dan Kantor Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Halmahera Barat dengan acara unik, upacara di kawasan konservasi Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii sp). Ada beberapa hal positif yang dapat dicatat dari upacara ini. Pertama, kawasan Bukit Tanah Putih ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Kedua, penduduk desa di kaki bukit Tanah Putih yang selama ini concern dengan perlindungan burung langka dari Halmahera ini, mendapat penghargaan.
Artinya, sumpah pemuda kali ini dimaknai sebagai kepedulian pemuda dan Pemda Halmahera Barat terhadap kelestarian alam, utamanya menyelamatkan salah satu hewan endemik Halmahera ini dari ancaman kepunahan. Sekaligus mengingatkan kita, betapa kekayaan alam yang satu ini sudah berada di ambang kepunahan yang serius.
Keunikan burung ini adalah satu-satunya anggota genus Semioptera. Burung jantan bermahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat dan warna pelindung dadanya hijau zamrud. Ciri yang paling mencolok adalah dua pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya dan bulu itu dapat ditegakkan atau diturunkan sesuai keinginan burung ini. Burung betinanya kurang menarik, berwarna cokelat zaitun dan berukuran lebih kecil serta punya ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan.
Tiap pagi dan sore, burung ini keluar dan menari dengan lincah, lalu turun ke sungai dan minum serta mencari makan. Makanannya terdiri dari serangga, artropoda dan buah-buahan, utamanya buah pohon matowa yang menjadi makanan favoritnya. Burung ini pertama kali dilihat Wallace pada tahun 1858 ini, kini daerah sebarannya makin sempit. Terakhir terlihat di Lolobata, Bukit Tanah Putih Sidangoli, dan daerah sekitar Air Terjun Goal, yang masuk dalam kawasan Kaki Selatan Gunung Gamkonora.
Adalah tanggung jawab semua pihak, bagaimana melindungi habitat burung unik yang hanya ada di sebagian pulau Halmahera dan Bacan ini. Setelah sekian puluh tahun, sejak survey awal Pramuka Saka Wanabhakti, sekitar tahun 1994, yang mendata burung yang masuk kategori burung surga ( paradisaeidae) dan Birdlife International yang merekomendasikan sejumlah titik lokasi Burung Bidadari dan Maleo Halmahera sebagai kawasan cagar alam, hampir tak ada kemajuan dalam gerakan perlindungan hewan asli yang nyaris habis ini.

Memang, sekitar tahun 1999 lewat sejumlah media, baik nasional maupun lokal, isu penyelamatan burung Bidadari telah dikampanyekan. Sayang, isu itu tenggelam karena kerusuhan besar melanda wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Cukup lama isu itu terendam dalam catatan kusam para peneliti dan pengambil kebijakan negara.

Tiba-tiba, majalah Tempo menulis tentang sebuah diskusi di Inggris, yang mencoba mengangkat kisah dan hasil penelitian Alfred Russel Wallace. Dan Sengkot Mardjuki, direktur Eijkmann Institut, menulis tentang “Letter from Ternate,” sebuah serial panjang surat-surat Wallace kepada Charles Darwin, yang menjelaskan tentang sejumlah hal kunci yang menandai lahirnya sebuah teori kontroversial sekaligus menandai abad kebangkitan ilmuan biologi: teori evolusi.

Padahal bagi kita di sini, di negeri yang pernah ditinggali Wallace selama kurun waktu hampir 4 tahun, jejak nama lelaki yang pernah tinggal di rumah van Boden ini sudah lenyap sama sekali. Dari sini, Wallace lalu ke Bacan pada sekitar tahun 1852, dan menemukan secara kebetulan, burung surga ini, yang ditembak Ali, pembantunya.
Karena kolom di majalah Tempo itu, ditambah acara menyambut 150 tahun Alfred Russel Wallace di Senayan Jakarta, lalu Syamsir Andili menindaklanjuti dengan sebuah pra symposium di Ternate, sebelum symposium internasional di Makassar tentang “Letter from Ternate,” sebuah upaya mengenang sang naturalis besar dari Inggris ini. Symposium yang dihelat di Ternate, awal Desember 2008 silam, menandai upaya Syamsir mendorong perlindungan dan penelitian terhadap burung langka dan megapoda di Maluku Utara.

Penjarahan hutan tanpa mengenal ampun saat Halmahera booming kayu bulat kelas atas, turut menjadi sumber utama tergusurnya burung endemik yang dikenal memiliki kebiasaan kawin monogami ini. Kawasan yang berada di Sidangoli, yang pernah ditempati PT. TAIWI, anak perusahaan Barito Timber, raksasa kayu Indonesia, yang menempatkan pabrik kayu lapis (plywood) di daerah sini, kini tinggal sisa-sisa hutan, yang tak lagi perawan.

Dari arah pelabihan Sidangoli menuju arah kawasan konservasi Tanah Putih, yang terlihat hanya ladang penduduk yang tandus, hanya ditumbuhi ilalang, atau hutan yang gundul, dan sisa-sisa penamanan kembali (reboisasi) tanaman industri, yang kebanyakan sudah dibabat pula.

Lalu, apa arti pencanangan kawasan konservasi dan pemberian penghargaan kepada Demianus Bagali, penduduk Domato, Sidangoli, yang selama ini sendirian berusaha melindungi spesies yang tinggal kurang lebih 30 ekor di kawasan seluas hampir seratus hektare itu, jika pada saat yang sama, secara diam-diam upaya penghancuran terhadap spesies ini juga gencar dilakukan, dengan merusak habitatnya?
Sebuah ironi di era kini, saat kita berharap Bidadari masih bisa mengepakkan sayapnya dan terbang di udara kebebasan.

Sidangoli 28 Oktober 2009


Beri tanggapan

Your response:

Kategori