Dalam budaya paternalistik ketokohan seorang mempengaruhi orientasi dan perilaku masyarakat. Posisi, status sosial dan luasnya pengaruh menempatkan sang tokoh sebagai icon atau pusat perhatian. Sering dijumpai dilema ketika pada posisi demikian tokoh tak mampu menebar keteladanan.
Keteladanan adalah nilai-nilai kebaikan dalam diri seorang tokoh. Tokoh adalah simbol atau icon, jadi pusat perhatian dan orientasi. Status dan luasnya pengaruh sang tokoh, jadi bagian menentukan dalam menebar kebaikan dan keteladanan, meskipun tak seluruhnya begitu.
Gufran A. Ibrahim, budayawan juga Rektor Universitas Khairun Ternate, meretas pandangan yang jujur “Tokoh bukan hanya mereka yang di atas (berstatus elit-red), tetapi juga mereka di kalangan bawah,” (orang kebanyakan-red). Ia mengajukan contoh — seorang nenek pedagang buah — waktu seorang calon pembeli bertanya “Apa buah yang ibu jual benar rasanya manis? Apa jawab sang nenek? “Oh, kalau mau yang manis, sama bibi yang di sebelah, punya saya kurang terlalu manis”. Tak ada pamrih atau ingin menonjolkan diri, ketika si nenek mengatakan itu. Dialog itu mengalir dengan tulus dan jujur apa adanya.
Nenek di atas adalah kisah tentang nasihat masa kanak-kanak kita di dusun-dusun sepi, ketika mata belum tersentuh teknologi TV hitam-putih. Wejangan orang tua di sela makan, atau ketika kita belajar menulis indah di bawah temaram pelita, menjelang tidur; “tong punya ya, tong punya, orang punya ya, dong punya” (ambillah bagian yang menjadi hak kita, berikan bagian yang menjadi hak orang lain). Wejangan yang jauh dari kesan menggurui, tanpa dalil ataupun argumentasi, tetapi mengena, tertanam kuat dalam ingatan hingga dewasa. Kalau toh, kini ada yang melupakannya, itu soal lain.
Banyak kisah teladan dalam Sejarah. Jika era kenabian ideal, setidaknya merujuk para khalifah. Di sana ada Umar bin Khattab yang memikul sekarung gandum tengah malam kepada rakyat, ketika dia tahu mereka sudah beberapa hari belum makan. Abubakar Asshiddiq, mengembalikan seluruh gajinya ke baitulmal setelah pensiun dari jabatannya. Umar bin Abdul Azis, begitu takut “korupsi” hingga tidak mau menggunakan sekadar pelita untuk pembicaraan keluarga. Itulah keteladan yang bersumber dari nilai-nilai transenden yang dipegang teguh. “Bicara keteladan, contohilah Rasulullah SAW, dan para sahabat, khususnya khulafaul rasyidin.” Seru Ustad Zainal, sapaan akrab warga Tidore kepada mantan hakim pengadilan Agama ini.
Juga ada kisah lain tentang Gandhi yang sabar dan penyayang. Bunda Theressa yang rela hidup bersama kaum miskin di Calcutta. Jeferson yang takut melukai hati rakyat, hingga dalam pidato purna bhakti-nya sebagai Presiden Amerika, ia tanyakan kepada rakyatnya (bahkan dunia) pernahkah ia menyusahkan atau mengambil hak rakyat? Bangsa kita punya record tersendiri soal tokoh-tokoh teladan. Hatta yang jenius tapi tidak ambisius, ketika visinya tak diapresiasi dengan baik, ia mengundurkan diri sebagai Wapres. M. Natsir yang cerdas tapi sederhana, Perdana Menteri RI yang rumahnya digang sempit dan berbecek ketika hujan. Ia kemana-mana lebih senang naik becak ketimbang mobil.
Melihat fakta paradoksal yang ada, sebagian rakyat tentu pesimis. Karena di satu sisi, seribu satu persoalan yang dihadapi rakyat, menuntut perhatian dan keseriusan elit memecahkannya. Di lain sisi, elit penguasa justeru sibuk mengkalkulasi kepentingannya mereka. Kepentingan rakyat baru disentuh Kalau di dalamnya bisa dititip kepentingan mereka. Ada yang asimetris antar pemimpin informal dengan pemimpin formal. “Pemimpin informal dipilih karena punya kelebihan-kelebihan tertentu, antara lain kepemimpinan, keelokannya, keteladanan dan sebagainya. Sementara pemimpin formil dipilih dengan pertimbangan syarat-syarat teknis misalnya tingkat pendidikan tidak terlalu peduli dengan aspek keteladanan”. Terang pak Amal.
Padahal para teologis dan moralis berpandangan kekuasaan yang didapati seseorang adalah amanah Tuhan melalui kepercayaan rakyat yang mesti ditunaikan sebaiknya. Jika tidak penguasa itu dicap mangkir dan khianat. Karenanya practices abiality kekuasaan merupakan wujud excelences sang pemimpin. Ia merupakan sesuatu yang agung. Suatu tanggung jawab yang terekspresi dari esensi nilai-nilai azali dan boleh dimaknai sebagai konteks moral. Kekuasaan dalam konstruk ini adalah ibadah dan orientasi pada kepentingan umum, mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dengan cara-cara yang santun, egaliter dan fairness.
Disini problemnya. Sebagai bangsa yang mengklaim diri relijius, idealnya, konsepsi di atas mewarnai penyelenggaraan Negara. Namun jauh panggang dari api. Aset-aset sosial yang relijius-kultural, mengalami menggerusan yang hebat. Tersisa kini wajah kekuasaan dan penguasa (nasional maupun lokal), tak lebih dari mereka yang sering distigma lemah integritas dan identitasnya. “Mereka lebih mengutamakan kepentingan dunia dan melupakan akhirat. Kalau kekuasaan diyakini sebagai amanah, mustahil orang berani berkhianat” cecar Zainal Abidin, mantan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Papua dan Maluku ini.
Keteladan sesungguhnya sesuatu yang sederhana — tentang bagaimana orang-orang “besar” melakukan hal-hal “sederhana” dan bagaimana orang-orang “kecil” melakukan hal-hal yang “luar biasa”. Lihatlah, bagaimana seorang pemimpin “besar” sekelas Bin Khattab memikul sekarung gandum dan menyambangi ummat yang lapar tengah malam, As Shiddiq yang ikhlas mendermakan seluruh gajinya ke baitulmal untuk kepentingan umum, Gubernur Abdul Aziz yang risih menggunakan lampu minyak untuk urusan keluarga, karena itu fasilitas Negara, minyaknya disubsidi dari jerih payah dan keringat rakyat. Seorang Hatta yang rela berhenti dari jabatan Wakil Presiden menghindari “benturan” gagasan dan konsep pembangunan juga Seorang Perdana Menteri, M. Natsir enjoy kemana-mana pakai sarung, sandal dan kendaraan favoritnya hanya becak.
Tentang orang-orang “kecil” yang luar biasa. Ingatlah kisah nenek penjual buah yang merawat kejujuran, dan tak takut kehilangan pembeli. Para orang tua di pedesaan yang kerjanya serabutan petani, nelayan tradisional, tukang batu, dan sebagainya—tetapi mampu sekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Dalam keterbatasan, ada ethos dan energi moral yang terpelihara — rasa tanggung jawab yang tinggi. Mendorong hidup menjadi lebih baik. Itulah kearifan dan peneladanan. Dari latar macam itu, telah mengantarkan berlapis generasi yang kini bertaburan di etalase sosial, politik, ekonomi, Maluku Utara.
Bagaimana menjelaskan, elit penguasa yang lahir dari latar sosial penuh nilai kearifan: relijius-kultural semacam itu, mudah kehilangan orientasi nilai-nilai moral? “Ada semacam missing link, sehingga mereka mudah tergelincir dari nilai-nilai yang sebelumnya menjadi pegangan hidupnya” tukas pak Gufran.
“Karena pemimpin-pemimpin sekarang sudah tidak jujur. Sekarang orang pintar banyak, tetapi kejujurannya tidak ada”. Negara kita hancur. Ungkap Ali Albaar kesal. (sofyan daud).
keluarga, ia. itulah fondasi awal. didalamnya kita akan belajar keteladanan, kesedrhanaan dalam sikap, dan senantiasa menghadirkan rezeki yg halal. jika itu tidak dilewati dg baik, dipastikan dimanapun tidak akan bisa menghadirkan ketelaanan itu….
Oleh: Rahmat Abd Fatah on Oktober 16, 2009
at 7:31 am