Seekor burung indah kepakkan sayapnya
Di pagi nan indah, di puncak bukit Tanah Putih
Sejenak ia menari, lalu melejit pergi
Menyepi,
Di tepian sungai kaki bukit
Menunggu pasangannya, bercengkerama, mengais makanan
Dari sisa-sisa kayu
Yang roboh dihajar mesin chain shaw
Dari kaki bukit ini
Kicau burung makin jarang
Karena anak negerinya tak peduli lagi dengan kekayaan alamnya
Yang tersisa hanya langit yang berwarna merah tembaga
Mungkin nanti,
Kita hanya menyaksikannya di catatan seorang naturalis
Yang ratusan tahun lalu, bersusah payah datang ke negeri nan indah ini
Meski harus naik giup dan rorehe
Demi bakti pada alam dan ilmu
Kini, di kaki bukit Domato
Yang tinggal hanya serakah dan nista atas alam.

Sidangoli, 5 Mei 2009