(catatan untuk renovasi Mesjid Sultan Ternate)
Di sini, ada sebuah gedung tua yang menyimpan cerita
Kisah tentang datangnya para penyebar agama
Sejak jaman Sida Arif Malamo hingga Zainal Abidin dan Babullah yang Agung
Aku terpaku sejenak, Sebuah gambar tua di tanganku, sudah tak nampak lagi
Ada bangunan baru yang berbeda dengan gambar
Yang konon harus dirobah demi titah seorang,
Yang kuasanya melebihi kuasa Boki Nukila,
Bahkan kuasa para Momole………….
Di mihrabnya yang Agung Alunan ayat Qur’an kian melemah
Karena yang sakral dari tempat bertuah ini,
harus dihilangkan
Demi menyenangkan hati sang Permaisuri
yang kuasanya melampaui Ratu Gung Binatara
dan bermimpi ingin jadi penguasa monarkhi absolut
di sebuah negeri yang berdiri di atas altar monarkhi konstitusional
Di sisa tingkap mesjid tua itu, kutangkap seraut wajah tua
wajah seorang bala
usai sholat memandang ke samping mesjid
dia berujar lemah: apa yang salah dari negeri ini,
kenapa semua tradisi baik dan jejak sejarah harus dihilangkan?
Gamalama, 18 Juni 2009
Catatan :
Boki : Putri dan permaisuri Sultan
Bala : Rakyat jelata
Sigi Lamo : Mesjid Besar/Agung
Momole : Peguasa Ternate awal