Rusli Djalil *)
Tulisan ini saya buat setelah lama merenungi komentar kawan saya Busranto Abdullatif, salah satu blogger terbaik yang mengkhususkan diri menulis tentang Maluku Utara dan segala pernik-perniknya. Sebagian bahannya memang diambil dari komentar anak perantau asal Dufa-Dufa ini. Dia menulis khusus sejarah raja-raja Jailolo, sampai awal abad 20 lalu oleh seorang yang mengaku keturunan raja-raja Jailolo, Dano Jae Udd Din di daerah Halmahera Timur dan mengklaim takhta yang telah lama ditinggal penerusnya. Ditambah diskusi dengan kawan-kawan dosen di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, dan kritikan dari Dino Umahuuk, sastrawan asal Selat Capalulu, yang sekarang lagi naik daun di blantika sastra Indonesia.
Artikel ini saya dedikasikan untuk kampung halaman saya, Halmahera Barat, yang hampir melupakan sejarah negeri leluhurnya sendiri, hanya karena sejarah negeri ini telah dihapus dari catatan oleh kolonialisme Barat, maupun friksi antar kerajaan di Maluku Utara. Kemudian, makin ironis, karena sejumlah program menelusuri jejak kesultanan Jailolo maupun Banau, akhirnya buntuh. Program yang ada tak lebih dari upaya proyek menghabiskan anggaran.
Kebanyakan kebuntuan itu diakibatkan oleh pengambil kebijakan yang tak mau sejarah dijadikan cermin untuk menatap masa depan. Mereka lebih menginginkan semua menjadi mitos. Mitos bahwa Kesultanan Jailolo hancur pada masa pra Islam, dan karenanya tak boleh lagi ada. Mitos bahwa sasadu adalah pewaris kerajaan dari era pra Islam. Ada upaya melenyapkan Katarabumi, kolano terbesar dalam sejarah Jailolo. Bahkan pemberontakan Banau, yang dalam catatan seorang avangelist Belanda disebut sebagai pemberontakan oleh sekelompok kawula muslim yang tak puas dengan beban pajak, tak mau diakui sebagai sebuah catatan sejarah.
Jailolo memang punya catatan kelam. Termasuk era Katarabumi. Tapi mendudukkan semuanya dalam pentas sejarah maksudnya agar kita, generasi penerus, dapat berkaca pada apa yang pernah terjadi di negeri yang akhirnya bernama Hal-ma-hera ini, dan menata masa depan ke arah yang lebih berkeadaban. Sekaligus mengambil semangat juang para pewaris negeri, yang meski harus berjuang dari Halmahera Timur maupun Seram Pasir, tetap ingin menegakkan harkat rakyat dan negaranya sebagai sebuah bangsa yang merdeka, dan berdiri sejajar dengan bangsa lainnya. Atau dalam konteks kekinian, kita dapat berdiri sebagai anak bangsa yang sejajar dengan saudara-saudara lainnya di bagian Barat Indonesia, bahwa di sini, kita pernah punya sejarah gemilang, jauh sebelum Majapahit, Ternate, Tidore, dan kerajaan lain muncul ke permukaan.
Ironisnya, semua hendak dihapus oleh orang-orang yang punya niak buruk terhadap sejarah negerinya sendiri, demi kepentingan politik sesaat. Padahal, kata Soekarno, Presiden Indonesia pertama, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Dengan demikian dapat disimpulkan, ada upaya melakukan manipulasi sejarah Jailolo.
Terlepas dari itu, sejarah awal Jailolo memang agak samar. semua orang lebih terpaku pada mitos tentang Jafar Sadiq, yang katanya menjadi awal dari sejarah Moloku Kieraha. Padahal, sejarah Moloku Kieraha bermula pada tahun 1322, saat Sida Arif Malamo, kolano Ternate, menggagas upaya mendamaikan konflik antar negara di daerah ini, di Moti. Maka kemudian terkenal dengan Motir Statenbond. Sementara Sejarah Jailolo sudah bermula di era sebelum Momole di Ternate. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-Rempah mengutip Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca, menulis, awal kekuasaan Jailolo, seorang penguasa wanita yang tiran, memerintah dengan tangan besi, sehingga menimbulkan eksodus para elit politik dan bangsawan pembangkang, ke pulau-pulau sekitarnya. Maka lahirnya kerajaan Ternate dan Tidore.
Ini yang perlu diluruskan, karena jika tidak, maka yang akan kita temukan nanti adalah sebuah negeri gersang, yang kehilangan élan. Karena jati diri sebagai sebuah negeri yang pernah besar, digerus dan sengaja dilenyapkan.
Saya bukan seorang penulis sejarah yang baik, tapi seharusnya mencermati sejarah Jailolo, haruslah dengan hati dan semangat yang jujur. Sayangnya, yang menulis tentang ini masih sangat minim. Baru diblog Busranto Abdullatif, yang masih masuk klan Do’a—klan ini masuk salah satu percabangan keturunan raja-raja Jailolo periode II—ada sedikit banyak menyinggung tentang sejarah yang sudah sangat kabur ini. Untuk itu perlu ada apresiasi yang baik kepada yang bersangkutan, yang masih terus menggali, dan menelusuri jejak nenek moyangnya, dengan ketelitian seorang sejarawan, sebagaimana bidang ilmu yang digelutinya.
Dari beragam bahan yang diungkap oleh beragam penulis dengan beragam latar belakang, dapat terbaca, sejarah masa lalu kita yang kelam, juga akibat dari upaya untuk menghapus identitas kelompok tertentu demi kepentingan social ekonomi kelompok lain di daerah ini. Inilah yang dimaksudkan dengan benturan yang menyentuh hampir semua aspek (frame of conflict) di masa lalu, hingga ke masa sekarang.
Karena itulah, kemudian, konflik laten antar kelompok di internal kerajaan, maupun antar kerajaan menjadi makin membuat raja-raja Jailolo yang sudah dilemahkan oleh kekuatan asing dan local yang saling mendorong, kemudian menciptakan sebuah missing link yang cukup panjang bagi sejarah negeri ini.
Satu hal yang perlu dicatat adalah bawa apapun bentuk benturan sosial yang berlangsung akibat dari konflik kepentingan politik di masa itu yang merembes ke para pelaku sosial, maka akibatnya akan selalu sama yaitu stress sosial, kepedihan (bitterness), disintegrasi sosial yang seringkali juga disertai oleh musnahnya aneka aset-aset material dan non-material.
Kehancuran assetasset non-material yang paling kentara ditemukan dalam wujud “dekapitalisasi” modal sosial yang ditandai oleh hilangnya trust di antara para-pihak yang bertikai, rusaknya networking, dan hilangnya compliance pada tata aturan norma dan tatanan sosial yang selama ini disepakati bersama-sama). Bagi Jailolo, ini adalah kisah tentang hilangnya sejarah bangsa Halmahera.
(belum selesai………)
apapun kontroversi yang muncul paska kembalinya kesutanan jailolo dalam lembaran sejarah MOLOKU KIE RAHA yang sempat”vakum” kita harus menerimanya sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah tanah MOLOKU KIE RAHA
Oleh: ngova tuada on September 12, 2009
at 4:16 pm