Oleh: rusli | Maret 19, 2009

Bobaso se Rasai

Surat Terbuka Buat Thaib Armayn

Meski bukan Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung dan bukan khalifah yang utama.
Pada tahun dua ribu delapan tepat dua hari sebelum lebaran Idul Fitri, maka Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia telah dengan hidayat dan kodrat presiden serta kehendaknya telah mengangkat engkau pada derajat kekuasaan di puncaknya selaku tuan Governoor Maluku Utara, seolah dirimu Kolano.

Karena bukan Khalifahturrasyid dan Tubaddilur Rasul engkau tak pegang takbir perintah amar ma’aruf dan nahi mungkar, wayahkunul adilina bainal Rijali wan nisaa’i.
Demikian engkau bukan Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung dan bukan khalifah yang utama.
Engkau bertahta di singgasana yang agung, kau berpijak di atas tanah Moloku, penglihatanmu tersilaukan dan pendengaranmu tertutupi taburan intan dan yakut berlilit permata jamrud, berkilauan bagaikan ratna mutu manikam.
Fassyahnya terbentang di alam daerah Maloko Kie Raha, Limau Duko dan Gapi, Seki dan Tuanane di puncaknya tak menjadikan cahaya akal insan Kolano.

Karena engkau bukan Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, kami bala dan rakyat, kerajaan dan negeri tak sudi bernaung di bawah sombar kegelapanmu.
Karena engkau bukan Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, dan halifah yang utama. Pejabat tinggi kerajaan, Kimalaha Marsaoli, pemegang kekuasaan Perdana Menteri dengan perkasa tak mengangkat sembah untuk memberitahukan kepadamu tentang Maloko Kie Raha, Temate dan Tidore, Bacan dan Jailolo beserta wilayah kekuasaannya di utara terjauh: Sulu dan Mindanao, utara terdekat: Morotai dan Morotia, di selatan terjauh: Bima dan Manggarai, dan selatan terdekat: Sula dan Taliabu.

Karena bukan Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, dan halifah yang utama, Pejabat tinggi serta anggota Dewan yang terhormat dunia dan akhirat, Soa Sio dan Sangaji, Heku dan Cim dan juga para bangsa berbangsa, para pangeran dan semua pejabat yang berada di bawah kuasa adat Maloko Kie Raha serta semua hak dan kekuasaannya, adat dan aturan, galib dan lukudi, semua tata cara serta kebiasaan, Cing dan Cingare, kami semua bala dan rakyat, pejabat dan anggota Dewan, tak akan mengangkat dan memuliakanmu menurut ketentuan terdahulu zaman Mutakaddimin Tuan punya bapak dan kakek, dan kami punya bapak dan kakek sampai ada hari ini zaman Mutatakhirin Tuan dan kami akan terputus ikatan sampai pada hari kiyamat.

Karena engkau bukan Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung dan khalifah yang utama. Sebelumnya putra daerah, saya Dino Umahuk pewaris sah masa depan Maluku Utara dengan terpaksa tak mengangkat sembah”.

Dino F. Umahuk
Sastrawan dan Wartawan


Tanggapan

  1. asss>>>>!!!!!!
    saya juga ternate,skarang lg studi dijakarta…..!!!!
    hilangkanlah segala perbedaan dan amarah…..!!!!
    mari bersatu kita bangun maluku utara….!!!!!
    marimoi ngone futuru……!!!!


Beri tanggapan

Your response:

Kategori