
Penulis: Syaiful Bahri Ruray
Historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan, kata seorang pemikir Yunani, karena sejarah adalah hakim yang adil dan membuat manusia menjadi lebih arif. Untuk itu hanya manusia yang ariflah yang mau menghargai dan mempelajari sejarah. Karena sejarah sendiri adalah sumur dari sumber mata air kearifan. Tanpa sejarah manusia dengan sendirinya akan kehilangan kearifannya karena akan mengalami dis-eksistensi diri.
Begitu pula jika angkat bicara tentang Ternate, nyaris kita-kita akan membongkar lembaran-lembaran sejarah masa lalu. Pulau diujung timur nusantara in bagaikan noktah yang tak kelihatan dalam peta Indonesia apalagi peta dunia.
Namun imperialisme baratlah yang mengangkat noktah kecil ini menjadi ‘central of issue’ pada zamannya. Pada era imperialisme klasik, Spanyol dan Portugis merupakan dua adidaya karena keduanya memiliki kekuatan maritim yang besar pada kurun waktu itu.
Dalam perebutan pengaruh global kedua imperium katolik ini tak lepas dari pertikaian sampai-sampai Paus Innocent ke XII pun harus turun tangan menengahinya melalui perjanjian Tordesilas yang membagi dunia atas dua bagian bagi tiap – tiap imperium tersebut. Tetapi konflik kedua berlanjut hingga Portugis (1511) dan Spanyol (1521) tiba di Ternate dan Tidore. Akibatnya kedua kesultanan Tidore dan Ternate jadi ajang perebutan pengaruh global kedua adidaya abad pertengahan ini.
Yang menarik perhatian bangsa Eropa ke Maluku semata-mata karena harum bau bunga cengkih. Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum kedatangan Belanda, penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku ‘Summa Oriental’ yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai ‘the spices island’. Karena cengkih dan pala adalah komoditi perdagangan yang sangat tinggi nilainya saat itu. Selain dijadikan obat-obatan, cengkih juga dijadikan parfum untuk kalangan bangsawan Eropa. Karena aromatic dan mahalnya maka bunga cengkih dan pala identik dengan status seseorang, cengkih dan pala hanya mampu dibeli oleh kelas elite Eropa. Komoditi ini hanya bias dinikmati oleh para bangsawan Eropa saat itu.
Hingga kini pohon cengkih tertua dapat anda kunjungi di kaki gunung Gamalama, cengkih afo, demikian orang Ternate menyebut cengkih tua tersebut karena ukuran yang melebihi ukuran pohon cengkih biasa dan usianya tertua di dunia.
Kurang lebih Sir Alfred Russell Wallace, ilmuwan Inggris itupun pernah melakukan penelitian dikawasan Maluku Utara (1857) dan membuat catatan tentang Ternate dalam magnum opusnya ‘Malay Archipelago’. Pada halaman awal buku ini Wallace menulis ‘I dedicated to Robert Charles Darwin’ yang kala itu sedang bergelut dengan petualangannya dengan HMS Beagle untuk risetnya di kepulauan Galapagos yang berhasil melahirkan teori evolusi yang spektakuler itu. Wallace bahwa bahkan sempat mengumpulkan istilah-istilah bahasa daerah Maluku Utara pada akhir catatannya tentang Ternate. Serta mencatat pengaruh bahasa dan tradisi kultural Portugis dan Spanyol dalam kebudayaan lokal Maluku Utara.
Adapun monument tersisa kini dapat dilihat secara faktual dalam bentuk benteng- benteng pertahanan tertua yang dibuat Portugis di Indonesia yakni Nuestra Senhora del Rosario dan Spanyol yang juga membangun benteng Tjsobbe di Tidore dan Santo Pedro yang terletak di kota Ternate. Ternate memiliki benteng terbanyak di negeri ini. Selain itu bangsa Belanda dengan Gubernur Jenderal Belanda pertama di Indonesia, Pieter Booth juga meninggalkan sebuah benteng dengan bentuk alat kelamin. Pieter Booth dapat dikategori sebagai seorang peganut keras teori Sigmond Freud, bapak psiko analisa dari Swedia itu kemudian hari. Belanda membangun de fort Oranye sebagai pusat pemerintahan di nusantara dan markas VOC di Asia Tenggara di kota Ternate.
Gususan pulau-pulau Maluku Utara ini memiliki 4 kesultanan yang disebut Moloku Kieraha dengan simbol 4 gunung yang mengartikan kesultanan Jailolo, Tidore, Ternate dan Bacan. Sedangkan bendera resmi kerajaan bergambar se – ekor garuda berkepala dua yang menggenggam 4 daerah. Bendera ini disebut ‘Goheba Dopolo Romdidi’. Hanya saja unifikasi dan intergrasi 4 kesultanan ini tidak pernah tuntas karena implikasi langsung dari politik devide et impera kaum imperialisme.
Konflik nusantara dengan kekuatan asing secara faktual berawal dari kawasan Kepulauan Maluku ini. Sultan Khairun, Sultan Babullah serta Sultan Nuku adalah sederet nama sultan Ternate dan Tidore yang paling gigih dalam perlawanan kekuasaan asing terhadap negerinya.
Kesultanan ini adalah sebuah negara maritim dengan pola pemerintahan monarki parlementaris. Karena kekuasaan kesultanan dibatasi oleh Dewan 18 Bobato (Bobato Nyagimoi se Tufkange) semacam dean konstitusional. Disamping sultan sebagai raja terhadap dewan wasir yang dipimpin seorang perdana menteri yang di sebut Jogugu. Jogugu ini memimpin pemerintahan yang membawahi para Bobato, Kie Malaha dan Sangadji (Menteri, Bupati dll). Sedangkan angkatan bersenjatanya dipimpin oleh seorang kapita laut. Panglima ini disebut juga sebagai Mayor Perang, kapita perang atau Alferizi yang dalam bahasa Portugis berarti Letnan.
Maluku sendiri oleh pelaut Portugis disebut Moluschka (jenis hewan laut) karena banyak jenis ikan dan tumbuhan laut diperairan Maluku. Halmahera pun dinamai dengan sebutan ‘Batu Cina de Moro’ (Chinese Rock of the Moro’s). Sementara para pelaut dan saudagar Gujarat dan Arab menyebut Jaziratul Muluk karena kawasan banyak diperintah oleh empat raja, negeri dengan banyak sultan.
Sebagai negara maritim tercatat Sultan Nuku dari Tidore yang juga seorang laksamana laut yang handal dalam strategi dan taktik perang laut, ia sendiri bergelar Kaicili Paparangan. Pangeran Nuku lahir pada tahun 1738, disamping dikenal sebagai diplomat ulung oleh Belanda Nuku dijuluki sebagai ‘de prins rebel’ (pangeran pemberontak). Bahkan Nuku disebut juga dengan julukan lain sebagai ‘de aartroover’ atau bajak laut agung. Atas legitimasi historis Nuku terhadap wilayah Papua – lah membuat Ir. Soekarno gigih mengembalikan Irian Barat saat itu kepangkuan ibu pertiwi dengan menetapkan Tidore sebagai ibukota Irian Barat dan menetapkan Sultan Tidore Zainal Abidin Sjah sebagai gubernur pertamanya. Karena batas wilayah Papua ditetapkan berdasarkan perjanjian tertulis antara Sultan Nuku dengan Belanda 1828. Disamping itu tercatat juga Sangadji Tahane, Muhammad Arief Billa, siraja Jailolo seorang laksamana laut yang maju bertempur membantu Nuku, dengan pekik dan tifa perangnya (genderang) yang bekerja sama dengan angkatan laut Inggris yang giat membantu Tidore.
Memang saja gejolak politik abad pertengahan lebih banyak termanifestasi dalam adu kekuatan armada laut. Tak mengherankan jika panglima angkatan bersenjata saat itu adalah seorang laksamana laut. J.C. van Leur dalam Indonesia, Trade and Society, jauh-jauh hari mencatat bahwa dinamika kelautan sebagai faktor yang mendominasi dalam menentukan arah dan alur sejarah dan politik bangsa Asia hingga abad 19.
Dalam perang Pasifik (PD. II) Maluku Utara khususnya pulau Morotai menjadi ajang perebutan tentang Jepang dan Sekutu untuk dijadikan pangkalan militer karena posisinya yang sangat strategis. Pulau ini menjadi bagian penting dalam strategi lompat kataknya (frog jump) si Jenderal pembangkang Douglas Mc.Arthur. Sisa-sisa perang dunia II masih dapat dilihat sekarang ini antara lain bangkai kapal Asahi Maru milik bala tentara Jepang yang dibom sekutu di teluk Malifut dan sisa- sisa mesin perang di kawasan Army Dock Morotai.
Namun saja ini adalah sekelumit lembaran masa lalu, Ternate kontemporer memiklik potret diri yang lain lagi. Jika dulu dikenal sebagai salah satu emas dari tiga emas dari timur (the three golden from the east) yang pernah ditempati seorang gubernur jenderal, dewasa ini bekas ibukota kesultanan ini berstatus kabupaten.
Secara struktural memang terjadi degradasi, namun ada fenomena baru akhir-akhir ini di Ternate yang patut disimak adalah adanya semacam revitalisasi kultural dengan bangkitnya berbagai sanggar seni. Tapi apakah fenomena ini dapat disebut sebuah gerakan ‘revivalism of culture’.
Karena pada sisi lain begitu banyak orang Maluku Utara termasuk generasi mudanya telah mengalami keterputusan yang panjang (major – discontinuity) dalam lingkup historis maupun kultural. Diantaranya ada yang terperangkap konflik tradisional secara struktural, sehingga soal kultural bergeser menjadi soal periferal semata. Tendensi politik (struktur) yang terlalu kental mungkin karena politik masih menjadi pamglima di republik ini. Ataukah sisa – sisa konflik masa lalu peninggalan imperialisme abad pertengahan masih melekat kuat sebagai warisan yang tidak kita sadari telah memperburuk potret diri karena ketidak sadaran kita akan fungsi sejarah sebagai sumber kearifan lokal (local wisdom).
Dengan lain kata, kita percaya John Naisbitt dalam salah satu trend abad 21 mengatakan bahwa akan bangkitnya era seni serta orientasi dunia yang bergeser ke Pasifik, maka fenomena kultural ini dapat kita manfaatkan dengan tambahan substansi tentu saja untuk mengisi Maluku Utara dari tidur panjangnya.
Maluku yang termasuk kawasan rim of pacific secara fisik akan bersentuhan secara geografis pertama kali dengan kawasan Pasifik yang menjadi kancah pergelutan dan aktivitas global abad 21. Hal mana menurut orang muda kawasan ini harus berpikir ekstra lebih keras, karena generasi baru ini harus berwawasan intergratif sebagai conditio sine quo non. Sikap sektarian mau tak mau adalah sikap yang ketinggalan jaman, warisan masa lalu.
Jika dimensi-dimensi ini terabaikan Maluku Utara bakal menjadi back yard of the country (halaman belakang negeri nusantara).
Masyarakat Maluku Utara dengan sikap a – historis, tidak menghargai sejarah seperti halnya masyarakat Indonesia lainnya, kata Rosihan Anwar, adalah sikap yang naïf. Benteng Kayu Merah yang nyaris habis dimakan erosi laut adalah satu indikasi sikap kita yang cenderung a-historis. Sementara banyak monumen yang menjadi saksi momen-momen penting dalam menegakan eksistensi negeri ini terbengkalai serta tersia-siakan tanpa makna lagi. Seandainya saja Sultan Khairun, Sultan Babullah dan Nuku si Kaicili Paparangan bangkit dari kuburan entah apa kata mereka melihat sikap anak cucunya.
Entah apa kata mereka.
Teriring salam takjim kami buatmu.
Lensa Utara, Minggu II, Januari 1991.