Oleh: rusli | November 22, 2008

Gamkonora Kampungku

gamkonora

Nama ini sulit diucap orang Indonesia. Bahkan dalam khasana kawasan, ia tak termasuk diperhitungkan. Namun dalam peta geologi, nama ini sudah dikenal sejak berabad-abad silam. Ini adalah nama gunung di tengah Halmahera, yang sekaligus menjadi nama kampung, dan suku.

Jarang ada ahli sejarah yang bicara tentang negeri kami. Hanya sebuah artefak kecil, bekas benteng, fort Gammagonora, yang kini jejaknya sudah sulit ditemukan karena ditelan pembangunan di desa Gamkonora, serta meriam kecil di depan mesjid Muhajirin, desa Gamsungi, di kecamatan Ibu Selatan, Halmahera Barat, yang menjadi penanda, bahwa di sini, di masa lalu, pernah hadir kolonial Belanda, dan ada perlawanan dari masyarakatnya. Meriam ini kabarnya dibawa dari Batavia, tepatnya dari benteng Kota Intan.

Nama ini mulai terkenal ketika 9 Juli 2007 lalu, gunung api Gamkonora, salah satu gugus gunung api di Maluku Utara dan Sulawesi Utara, meletus besar. Abu yang disemburnya bertaburan ke mana-mana, sampai Komisi Penerbangan Nasional mengeluarkan larangan terbang bagi pesawat terbang sipil di atas Gamkonora di bawah ketinggian jelajah 5000 meter di atas permukaan laut. Tinggi gunung ini adalah 1.635 meter dari permukaan laut, atau 5,364 ft. Kordinatnya berada di 1.38° LU 127.53° BT. Dengan ketinggian demikian, Wikipedia menulis, Gamkonora adalah gunungapi tertinggi di pulau Halmahera. Di puncak Gamkonora, ada tiga kawah yang berjejer dari utara ke selatan. Saat ini, kawah yang aktif adalah kawah selatan.

Padahal, sejarah letusannya, sudah berabad-abad tercatat dalam sejarah vulkanologi dunia. Gunung ini jenis Stratovolcano. Tercatat gunung ini pernah meletus di tahun 1664-1665. Terbesar meletus di tahun 1673, yang letusannya mengeluarkan lahar sampai ke pantai di bagian selatan gunung. Tidak dijelaskan berapa korban dan kerugian akibat letusannya. Tapi efek tsunami yng ditimbulkannya serta lahar muntahannya masih dapat disaksikan berabad-abad kemudian. Maka ia kemudian dikategorikan juga sebagai Pasific Ring of Fire. Di sana, ada dua batu berdampingan, serta ada satu batu besar yang di atasnya tumbuh empat pohon kelapa, serta satu kuburan tua. Orang-orang menyebut daerah itu dengan istilah tanjung Kelapa Empat, karena pohon kelapa itu.

Sementara dua batu yang disebut sebagai batu saling mencium, memiliki mitos tersendiri. Menurut mitos yang diyakini, awalnya adalah dua orang saudara sekandung yang hendak berbuat maksiat di puncak gunung, lalu karena dimurkai Tuhan dan penghuni gunung, meletuslah gunung Gamkonora, dan keduanya terlempar sampai ke pinggir pantai yang jaraknya kurang lebih empat kilometer dari puncak. Keduanya lalu membatu, agar menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya, agar tidak mengulang lagi peristiwa itu.

Sejarah asal usul leluhur kami juga, dalam penuturan orang-orang tua kami, disebutkan bahwa kami adalah keturunan dari perempuan yang lari dan terpisah dari rombongannya, saat kedaton mereka di wilayah Limau Tagalaya, Pralaya, di pertengahan tahun 1500-an. Tetapi Gamkonora sendiri, menurut Sir Alfred Wallace, ahli botani asal Inggris yang mendedikasikan dirinya untuk penelitian biologi—yang hasil penelitiannya kemudian melahirkan revolusi di bidang biologi—merupakan gunung api yang cukup tua. Dari struktur batuan di puncaknya, sama dengan struktur batuan yang ada sebelum berakhirnya jaman es, ribuan tahun lalu. Era ini lazim dikenal sebagai zaman Pleistochen.

Kini, di kaki gunungnya, sejumlah sub etnis Maluku Utara mendiami kawasan yang cukup subur ini. Tapi suku yang melekat dengan nama gunung ini adalah, suku Gamkonora. Mereka menyebut diri mereka dengan nama Motilo’a atau Motiro’a. dia punya arti secara etimologis, sesuai bahasa Wayoli dan Gamkonora Tua, awal katanya adalah Metele’te atau ikut jalan lurus.

Ada keunikan lain, di puncak gunung Gamkonora, terdapat sebuah batu menyerupai kubah masjid. Jika berdiri diantara batu ini dan posisi masjid Gamkonora, posisi kita langsung mengarah ke kiblat. Diyakini itu merupakan batu nisan dari salah satu kuburan tua yang banyak berserak di sekitar puncak gunung. kuburan tua itu kabarnya adalah kuburan seorang waliullah. Tapi sulit dibuktikan karena tak ada catatan. Soal gunung ini sendiri, ada banyak mitos dan ritual yang yang dilakukan makin mengukuhkan posisi mitos sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan diagungkan.

Sedikit ada kejelasannya adalah sebuah kuburan di desa kecil di kaki gunung, Tahafo. Di sini, kabarnya, dimakamkan seorang penyiar Islam awal, Maulana Ishak Waliullah. Diperkirakan ulama ini hadir pertama kalinya sekitar tahun 1250-an. Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara: Pertama, melalui dakwah oleh para pedagang Muslim dalam alur perdagangan yang damai; kedua, melalui dakwah para dai dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala.

Terlepas dari itu, bahasa Gamkonora yang sempat diteliti oleh beberapa pakar yang sampai kini belum diekspose, disebutkan, bahasa ini merupakan induk dari sejumlah bahasa di Halmahera. Entahlah. Seperti juga nasib daerah saya, hanya mitos yang lebih terkenal, ketimbang sejarah tertulis. Kini, kemunculan budaya Sahu, salah satu sub suku di Halmahera Barat, seakan menenggelamkan identitas etnis Gamkonora. Bahwa kami hanya sub etnis dari suku Sahu dan Wayoli (Voorhoeve and Visser, 1987). Ada missing link di sini. Hanya sebuah pepatah lama yang masih dipegang sebagai penanda identitas kami: ma’ioro ‘o mete’ dina, ‘o dadi sau macim, ma longodu ‘o mete’ dai ‘o dadi olan de sangaji. Kami diyakinkan oleh tetua kami, kamilah olan de sangaji itu.

Padahal, Gamkonora, sesuai artinya, adalah gunung atau kampung yang tepat berada di tengah pulau (Halmahera). Daerah ini setelah hilangnya kerajaan Jailolo, disebut-sebut menjadi sebuah perdikan yang mandiri. Ketundukan ke Kerajaan Ternate sangat longgar.

Tercatat sekitar tahun 1700-an, seorang sangaji yang pernah berkuasa di sini, bernama Sahib Bil Hidayat Kamaluddin Syah, dengan gelar Raja Kawasa. Dia disebut menguasai seluruh wilayah eks kesultanan Jailolo, meski dalam kenyataannya, dia hanya berkuasa atas wilayah-wilayah kesangajian Gamkonora, membawahi suku-suku Tobaru, Wayoli, dan Sahu. Dalam novel sejarah “Ikan-Ikan Hiu Ido Homa,” YB Mangunwijaya menulis, Sangaji Gamkonora adalah tangan kanan Raja Jailolo. Dia mewakili raja Jailolo mengunjungi daerah-daerah taklukannya, dalam sebuah armada perang yang kuat.

Tapi penduduknya punya pandangan yang agak minor tentang kesultanan Ternate. Karena sejarah masa lalu daerah ini, yang adalah generasi yang berasal dari keturunan orang-orang di lingkar utama keraton Jailolo, sebelum pembakaran kedaton oleh armada Ternate. Menjadi perdikan atau kesangajian vazaal dari Ternate memang menyakitkan hati, meski itu harus ditelan diam-diam. Seperti anak negerinya yang seperti digoyang benturan palung dan digoyang terus oleh konvergensi Philippine Sea Plate di tinggian Talaud-Mayu.


Tanggapan

  1. Assalam mualailum..om Rusli

    om Rusli mancia Gamud?

    Fangare Mancia Gamud om!!..haha


Beri tanggapan

Your response:

Kategori