Oleh: rusli | Oktober 8, 2008

Kadato Ici, Situs yang Terlupakan

Sekitar awal tahun 2001, konflik komunal di Maluku Utara baru selesai. Semua sedang fokus pada recovery dan rehabilitasi korban pasca konflik. Dalam sebuah tugas jurnalistik, saya ketemu dengan Ismunandar Aim Syah, waktu itu anggota DPRD Kabupaten Maluku Utara dari Partai Golkar. Berbicara dengannya memang enak. Salah satu pewaris mahkota kesultanan Ternate ini orangnya cukup terbuka. Hanya satu yang waktu itu tak mau disinggungnya, status Kadato Ici.
Sebagai salah satu pewaris Keraton Kecil—demikian arti kadato ici dalam bahasa Ternate—dia cenderung tak mau membahas sengketa antara keluarganya dengan pihak kesultanan Ternate (dia juga masih terhitung salah satu pewaris tahta). Waktu itu bangunannya sudah reot dimakan jaman. Saya ingin menulis tentang sejarah bangunannya, termasuk posisinya di tengah pusaran besar revolusi biologi, teori evolusi. Karena menurut catatan saya yang belum lengkap, di rumah inilah, asal mula dan alamat “Letter from Ternate” bersumber.
Kini, gedung reot itu telah berubah wujud. Sekitar tahun 2005 lalu, Pemerintah Kota Ternate telah memugar bangunan ini. Pemugaran ini satu paket dengan gedung Ngaralamo, gedung Dewan Rakyat-nya kesultanan Ternate. Saya juga mulai melupakan upaya yang hendak saya kejar enam tahun lalu. Lalu, dalam edisi Seratus Tahun Kebangkitan Nasional, majalah Tempo menurunkan artikel dengan judul “Surat dari Ternate”. Artikel yang ditulis Sengkot Marzuki, direktur Lembaga Biologi Molekul Eijkman dan ketua Yayasan Wallace Indonesia itu, membangkitkan kembali ingatan saya tentang upaya menulis jejak lelaki Inggris yang disebut-sebut pernah terserang demam tinggi karena malaria usai melakukan riset, lalu, saat tergeletak tak berdaya di Kadato Ici, ia menulis surat panjang yang dikirim ke negaranya. Lelaki itu, Alfred Russel Wallace, yang lahir di Wales tahun 1823, adalah penulis surat fenomenal itu.
Petualangannya antara 1854 – 1862 di bumi Maluku Utara itu yang membuka tirai gelap sejarah ilmu pengetahuan, tentang asal muasal mahluk hidup. Di sini juga mulai dikenal istilah, yang terkuat yang akan bertahan hidup, proses evolusi yang mendasari teori munculnya spesies baru. Surat panjang yang menegaskan tentang seleksi alam dan perjuangan untuk bertahan hidup, dan dibahas dalam Linneas Society—perkumpulan ilmuwan Inggris—pada Juli 1858 itu, kemudian menjadi kata kunci dalam buku Charles Darwin, Asal Usul Spesies.
Si penemu burung Bidadari Halmahera (Semiopthera Wallacii, sp), dan beragam hewan endemic Halmahera, ternyata adalah sang penemu besar itu. Sayangnya, dunia ilmu pengetahuan cenderung telah mengklaim bahwa teori itu adalah Darwinisme. Dan sekali lagi dunia menunjukkan, sejarah ternyata hanya dikuasai orang yang punya kuasa atas uang dan kekuasaan, dua hal yang dimiliki Darwin yang bangsawan dan intelektual ternama dari Inggris. Sementara Wallace tak lebih dari peneliti lepas yang bukan lulusan perguruan tinggi ternama.
Lalu apa yang dapat diperoleh dari sini? Bagi Ternate sendiri, praktis tidak ada. Di bangunan yang kini dipugar indah di depan masjid Kesultanan Ternate, kisah besar itu tak memiliki jejak sama sekali. Ternate yang ingin menjual pariwisatanya ke dunia luar, ternyata belum punya informasi memadai tentang kekayaan negerinya. Padahal, di dunia luar, penghargaan terhadap situs sejarah seperti ini, apa lagi berkaitan dengan ilmu pengetahuan, sangat dijaga.
Sekarang, menyaksikan rumah tua yang kini dipugar menjadi baru lagi itu, serasa masuk ke lorong waktu, kembali ke abad ke-19. Apa lagi, melintasi gunung tanah putih di Desa Domato, Sidangoli, Halmahera Barat, bayangan tentang lelaki Inggris yang meneliti siang malam keindahan burung Bidadari Halmahera ini kembali melintas jelas.
Di tengah belantara Halmahera yang saat itu masih perawan, sulit dilukiskan perjuangan petualang asal Wales ini menaklukkan alam, guna mengejar spesies Halmahera yang beragam itu.  Tapi di sini, hari ini, bahkan dalam informasi pariwisata Maluku Utara, nama tempat lahirnya teori evolusi yang disebut-sebut sebagai revolusi dalam ilmu pengetahuan, utamanya biologi, tak ada sama sekali.
Satu ketika, dalam sebuah bincang-bincang ringan dengan Hanif Suranto dan Bambang Wisudo dari Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, saat lokakarya jurnalisme damai beberapa waktu lalu, Hanif mengakui kekayaan Maluku Utara di bidang pariwisata luar biasa. Selain itu, hotel bintang empat di Ternate, seperti  Ammara, dan penerbangan regular dari dan ke Jakarta tiap hari yang dilayani empat maskapai penerbangan nasional dengan pesawat  Boeing 737 seri 300 atau Fokker 100. Belum termasuk penerbangan dalam provinsi, atau ke Manado dan Ambon, yang dilayani dengan pesawat kelas Dash 8 seri 500.
Di restoran Florida’s tebing Ngade, pada Jumat sore 15 Agustus 2008 lalu, keduanya berbincang ringan dengan saya, Syarifudin Oesman (Ipink), serta personil majalah GENTA, yang menjadi panitia lokal Pelatihan Jurnalisme Damai yang diselenggarakan LSPP dan disponsori Unesco itu. Sambil minum air jahe ditemani pisang goring dan singkong goring, dan menikmati sunset sambil memandang jejeran pulau Tidore dan Maitara, kami membincangkan banyak hal. Terbanyak adalah mendiskusikan bagaimana menggali potensi wisata di negeri pulau ini, dan menjualnya ke luar.
Wisudo yang mantan wartawan senior di Harian KOMPAS ini menganggap strategi pemasaran Pemda soal Pariwisata belum bagus, kendati fasilitas penunjang seperti hotel dan lapangan terbang cukup tersedia. Menurutnya, diperlukan kampanye pariwisata lebih gencar lagi, dan pembenahan manajemen perhotelan sehingga memudahkan wisatawan saat berkunjung.
Di Maluku Utara, bukannya program pengembangan pariwisata yang digalakkan, malah kepala Dinasnya sempat ditahan polisi karena rencana pembangunan kembali kedaton Jailolo, keraton kesultanan Jailolo yang dibumi hanguskan di masa pralaya kesultanan Jailolo Pasca Kolano Katarabumi, raja Jailolo terbesar dalam sejarah, ternyata bermasalah.
Tabir gelap pariwisata Maluku Utara itu masih berlanjut. Dalam upaya melacak jejak pariwisata di bumi seribu pulau ini, saya mencoba mencari informasi tentang pariwisata di Maluku Utara. Jangankan penjelasan tentang lokasi hotel, dan sarana angkutan apa yang dipakai dari dan menuju Ternate, ternyata penjelasan tentang situs-situs sejarah dan potensi wisata yang dimiliki juga hampir tidak ada. Justru di blog sejumlah anak Ternate-lah, potensi wisata ini dikampanyekan secara intens. Tengok saja Blog Bustamin Abdullatif (ternate.wordpress.com), yang mengampanyekan budaya Ternate, maupun Ruslan Sangaji (gambesi.blogspot.com), jurnalis asal Gambesi yang kini mukim di Palu, Sulawesi Tengah, dengan artikel sejarahnya.
Sejarah tentang Baabullah dan Nuku, dan ragam budaya Moloku Kieraha, justru lebih lengkap di sejumlah blog itu, dibanding situs resmi milik Pemda Provinsi Maluku Utara, yang dikelola dengan dana milyaran rupiah. Tak heran jika jejak sejarah tentang petualang dari Inggris yang sempat tinggal di Kadato Ici, tak dapat ditemukan di situs resmi pemerintah. Maka lengkaplah sudah, Alfred Russel Wallace dan Kadato Ici, hanya sebuah nama, yang entah di mana dan bagaimana tautan antara keduanya, tak pernah diketahui oleh “pemilik rumah” yakni warga Ternate, dan diabaikan pemerintahnya. Ironis.


Tanggapan

  1. Banyak situs yang dipugar kembali bos, tapi sangat jarang dikampanyekan secara serius oleh pemerintahnya. yang sekarang lagi diurus adalah, bagaimana agar dana-dana pusat itu dikorup untuk dibagi-bagi.
    tabea

  2. Saya prihatin dengan kondisi demikian, itu semua karena tidak ada rasa memiliki, padahal, aspek kehidupan ini bukan hanya sekedar “tike oho”, melainkan banyak aspek yang harus dibangun, ya politik, sosial, budaya, ekonomi, dan masih banyak lagi aspek lainnya, tinggal kita sebagai anak bangsa memposisikan diri kita pada aspek mana kita harus berpartisipasi untuk membangun bangsa ini…..! Tul gak…?!

  3. Sebagai penerima warisan budaya masa lalu, kita sebaiknya bersikap menjaga dan memanfaatkannya dengan baik,….bermanfaat bagi seluruh kalangan. Ayo lestarikan warisan budaya!!…Save Ternate Heritage!!

  4. belum ada data lengkap yang membuktikan bahwa rumah yg dimaksud pernah dihuni oleh A.R.Wallace.
    bapak punya bukti2 nya?…senang sekali jika bisa berbagi. syukur dofu-dofu.

  5. jejak Alfred Wallace, seperti jejak sejarah lainnya, sering tak berbekas di bumi Kieraha. sayangnya, hal yang begitu serius, tak pernah jadi catatan bagi kita. bahkan istilah Letter from Ternate dan Penguasa atas 72 pulau berpenghuni, juga ditemukan di luar. tak ada data artefak lengkap tentang suatukawasan terhadap. terima kasih kawan, atas komentarnya

  6. awal tahun 1990an, saya dan pak Syamsir Andili, dibantu oleh British Council melalui bibu Haryatiningsih, untuk memugar Kadato Ici dan menjadikannya Wallace Center for Biodiversity, dananya poundsterling waktu itu, sudah ada ijin Sultan dan copy sertifikat Kadato Ici untuk dijadikan pusat kajian dan perpustakaan. Sayangnya justeru para pewarisnya yang menhalangi ketika Eton Teng, Kepala PU hendak melakukan survey lokasi utk master plan pemugaran. Banyak jalan menuju pelestarian cagar budaya Maluku Utara, asalkan kita selaku anak negeri tidak bersikap ahistoris. Historia magistra vitae, sejarah adalah guru sang kehidupan !

  7. sangat disayangkan,banyaknya situs sejarah di Maluku Utara tidak mendapat tanggapan positif dari banyak elemen, tidak saja pemerintah, dunia akademik (mahasiswa) bahkan masyarakat kita sendiri. tidak hanya pemugaran benteng, kedaton, tetapi situs ‘intangiable’ juga sudah mulai menghilang dari alam kesadaran masyarakat terlebih generasi muda kita. “kesadaran sejarah”…mungkin itu yang diperlukan saat ini.

  8. Sekarang, saya sudah mulai melihat ada geliat anak muda Ternate untuk meneliti sejarah negerinya. ini langkah bagus. renovasi bangunan bersejarah yang asal jadi tanpa menghargai posisi kesejarahannya, memunculkan semangat baru. semoga ini merupakan awal bagi apa yang diistilahkan Lina Madjid, “kesadaran sejarah” yang mulai muncul.
    sperti dibilang Bang Ipul, sejarah adalah guru yang baik (historia magistra vitae), dipedomani kita semua. sehingga untuk menemukan jejak Wallace sang pengelana dan jurnalis legendaris Inggris, kita harus menunggu ada sentakan dari luar daerah, agar kita sadar, negeri ini banyak memberi ilham bagi munculnya teori-teori besar dunia ilmu pengetahuan.

  9. tanggal 2 Desember 2008 Kota Ternate telah mengadakan Prasymposium 150 tahun Wallace…saya sempat memberi bahan2 berupa “Letters From Ternate’ yang ditulis 150 tahun lalu, juga memberi alamat Wallace Foundation di New York, serta foto tempat dan rumah kelahiran Wallace dan juga kuburannya yang memiliki batu nisan unik, semuanya saya kumpulkan dari internet di Universitas Utrecht, Belanda. Semoga simposium tersebut dapat menjadi pemacu bagi Ternate untuk lebih menghargai identitas kesejarahannya, lebih membuka mata anak ngeri bahwa Ternate memiliki posisi dimata ilmu pengetahuan di tingkat dunia. Sayangnya jika anak negerinya hanya terkooptasi dengan rutinitas lokal belaka..

  10. Sebagai generasi muda Malut, saya sangt bangga dengan apa yang di lakukan oleh bang ipul sebgai bagian dari tokoh Maluku Utara. namun dalam keseharian sebagai bagian dari lingkran pengambil kebijkn di Malut, terkesan (secara formal) bang ipul “singel fighter” semntara yang lain cenderung vacum khususnya pada persoalan wallace. masih untung pihak Pemkot Ternate memiliki komitmen pengmbangan sejarah dunia itu..mungkin karena ada embel2 “Letter From Ternate” ataukah memang pihak Pemkot betul2 menyadari bahwa wallace adalh sebuah sejarah ilmu pengtahuan dunia yang berawal dari ternate untuk itu perlu dikmbangkan, yang jelas saya memberikan apresiasi positif terhadap langkah Pemkot tersebut…yang menjadi masalah adalah saya tidak melihat geliat pemerintah provinsi Maluku Utara secara formal, padahl wallace merupakan kebanggan seluruh komponen Maluku Utra, Indonesia bahkan Dunia..seharusnya kita malu dgn antusiasme pihak Pemprrov sulawesi Selatan yang begitu hangat mnghargai sejrah dunia ini, sampai2 pada saat berlangsungnya seminar Internasional ‘Letter From Ternate” di Makassar beberapa waktu yang lalu, sempat terpampang baliho menyambut seminar tersbut dengan gambar latar gubernur dan wakil Gubernur Sulsel, padhal Sulsel hanya tempat seminar, kalaupun ada kaitan dengan Wallace hanya karena sulsel juga tempat Alfred Wallace melakukan penelitian…sedangkan pihak Pemprov Maluku utara belum terluhat secara jelas partisipasinya dlam msalah ini. oleh karena itu harapn saya sebagai bagian dari masyarakat Maluku Utara pihak Pemprov secra formal harus bisa memberikan peran yang optimal dalam pengmbangan sejarah ini. kita harus menyadari bahwa sejarah di bumi Maluku Utara adalah sejrah kita bersama…semoga!

  11. Penghargaan atas sejarah masa lalu dilakukan dengan mengkaji dan menganalisa kembali sepak terjang para pelaku sejarah. Mengimplementasikan kembali semangat dan sisi positifya..
    Karena tidak selamanya orang Jahat itu meniggalkan sesuatu yang jahat apalagi seorang walace yang melaukukan penelitian dan pernah tinggal di Ternate.
    Kebiasaan buruk bangsa ini adalah selalu sombong dengan keberhasilan semu yang tiada artinya bagi hidup ini. Padahal sejarah mencatat, dengan keterbatasan finansial dan sarana walace dapat berlayar dari Filipina sampai Indonesia dengan kapal yang lebih pas disebut Rakit.
    Bangsa Belanda walaupun menjajah bangsa Indonesia masih bisa membangun infrastruktur yang berkualitas baik. Di Sulsel bahkan ada Irigasi yang dibangun Pemerintah Belanda dan sampai sekarang masih dipergunakan untuk mengairi ribuan hektar sawah dan menjadikan Sulsel sebagai Lumbung Beras Indonesia timur. Bagaimana dengan Maluku Utara..???
    Kantor Dewan Propinsi yang baru dibangun dan belum terpakaipun plafonnya bisa runtuh, Jalan yang baru dibangun belum sampai satahun sudah hancur lagi..
    seharusnya kita malu pada penjajah. Kalau jeruk minum Jeruk sih masih mendingan ada vitaminnya. Tapi kalau bangsa sendiri menjajah bangsa sendiri itu namanya PENGHIANAT…

  12. menurut saya warisan budaya yang ada harus dilestarikan karena merupakan ciri khas daerahte rnate.

  13. Kepada rekan-rekan dan saudara-saudara saya..
    Saya kira sudah saatnya pembangunan di kota Ternate di Stop! Dalam artian, pemindahan sentra pembangunan ke Halmahera harus seserius mungkin! Sangat sedih di antara 2 Kedaton Ici, sudah terbangun sebuah kantor megah yang tidak memiliki hati nurani karena dari sisi arsitektur sangat bertentangan dengan peninggalan yang ada.. Seperti beberapa tahun yang lalu ada rumah dengan atap besar dari budaya negari yang jauh menutupi pemandangan dari laut akan kemegahan Masjid Sultan, dan sekarang tampak lagi ketidak harmonisan dengan membangun Masjid megah dengan desain yang menurut saya sangat berbeda dengan budaya asal Ternate yang tidak menggunakan Stupa.
    Walau saya di lao, mudah-mudahan ada yang mendengar, paling tidak batas Benteng ke Utara dapat di berikan otonomi khusus atau semacam cagar budaya Kesultanan Ternate. Seperti pada saat saya terakhir ke Kesultanan Buton, sedang ada rapat para keluarga yang tinggal di dalam Benteng Keraton, hingga detik ini mereka masih komitmen untuk tidak membangun rumah batu di dalam lingkungan Benteng Keraton dan tidak mengalihkan ke orang lain selain keluarga sendiri.
    Mudah-mudahan bisa menjadi contoh untuk kita semua.
    Wassalam,

  14. Bapak George kalo tra salah, hehehe, itu jadi tanggung jawab kita semua untuk mengkampanyekannya.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori