Oleh: rusli | Agustus 13, 2008

Banau

Suatu hari, awal Juli 2008, saya membaca Malut Pos. Di situ ada berita, beberapa sineas Jakarta mau membuat film tentang Banau. Artikel itu menyebutkan, Banau yang berjuang dan mati pada tahun 1517, hendak difilmkan oleh salah satu production house yang dimikili putra-putra actor ternama Indonesia di era 1970-an, Almarhum WD. Mohtar. Saya terkejut, tahun 1517? Tak salah? Apa catatan tentang Jailolo dan Banau, pahlawan Halmahera di paru awal abad 20 sedemikian miskinnya, hingga untuk menentukan tahunnya, para sineas ini kesulitan menentukan tahunnya.

Memang, film bukanlah sebuah catatan sejarah. Tapi setidaknya, cerita itu diharapkan tidak bergeser jauh dari kisah yang sebenarnya. Karena dari sana, orang dapat membayangkan, seperti apa cita-cita pemberontakan Banau.

Usai membaca laporan Malut Pos, saya menelepon salah satu redakturnya. Kepada kawan redaktur itu saya sampaikan protes itu. Esoknya, dalam berita lanjutan soal Banau, protes saya ditulis kembali, dan saya “didaulat” Malut Pos sebagai budayawan muda. Ahaa. Mendengar kata budayawan, saya teringat akan kawan baik saya yang bernama Marwan Hamzah.

Ketua Pemuda Demokrat Maluku Utara ini dikenal koleganya sebagai salah satu budayawan local. Seminggu lalu dia mengirim pesan pendek ke telepon seluler saya. Isinya, “Banau pe cucu, telepon balik. Saya so rindu ngoni pe suara.”

Hanya kawan dekat yang biasa bercanda secara berlebihan. Dan dia salah satu kawanku, yang, meski di tengah ketegangan politik, masih sering halo-haloan.

Dia mengabarkan tentang posisi barunya di jajaran Partai Demokrat Maluku Utara. Ia bertanya tentang banyak hal. Di antaranya, bagaimana bacaan saya terhadap kondisi geopolitik local di Ternate, karena dia maju sebagai salah satu kandidat yang akan bertarung dalam pemilu 2009.

Selain dia, di “sekoci” Partai Demokrat, kabarnya, ada juga kolega yang juga senior saya, Rahmi Husen, yang akrab disapa Junaidi. Mantan ketua KPU Maluku Utara ini ternyata didorong Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan Halmahera Selatan.

Terlepas dari informasi soal para politisi muda di Maluku Utara, saya kembali teringat akan nasib pahlawan dari Jailolo ini. Dia dikenal sebagai pemberontak dari teluk Jailolo. Dari Tuada dan Todowongi, menyebar ke Porniti, dan wilayah Jailolo lainnya.

Tapi Jailolo adalah daerah yang hampir dilupakan dari sejarah lokal. Dari sebuah Negara besar di seluruh daratan Halmahera, ia menciut menjadi sebuah kampung kecil di pesisir barat pulau Halmahera. Sejak Katarabumi meninggalkan jejak kejayaan yang kemudian dibungkam nafsu serakah antar anak negeri sendiri, daerah ini hanya mendapat keistimewaan, menjadi satu distrik di masa akhir kolonial.

Hari ini orang lebih mengenal burung bidadari (semiopthera wallacii, sp) salah satu burung endemic Halmahera yang ditemukan pertama kalinya dalam sejarah ilmu pengetahuan oleh Alfred Wallace, ahli Botani dari Inggris. Burung surga yang kini diperkirakan jumlahnya tak lebih dari lima puluh ekor itu, menghuni Bukit Tanah Putih, Sidangoli, Jailolo Selatan.

Padahal, membayangkan Banau, ibarat melihat sosok Leonidas, pahlawan perang Sparta dalam cerita Yunani Kuno, yang difilmkan oleh Hollywod dengan judul “the 300th. Bagaimana Banau, dengan karibnya, Puaen, bahu-membahu dengan pasukannya yang jauh lebih kecil dari pasukan Belanda dan armada perang Ternate. Dibantu Kapita Yogo, Kapita Adam Lamo, dan orang dekatnya, Puaen, mereka membunuh kontrolir Distrik Jailolo.

Kisah Banau adalah kisah tentang kepahlawanan orang-orang Halmahera. Dan Banau adalah titik pusat gerakan itu. Bersekutu secara rahasia dengan Sultan Ternate, Muhammad Usman Syah, dia menyusun gerakan perlawanan yang dipicu oleh penindasan dan Pajak Pemerintah Jajahan yang begitu menghimpit.

Keharusan membayar pajak tanpa reward karena sebagai anak jajahan, mereka tetap diperlakukan sebagai budak. Kesadaran ini kemudian membangkitkan perlawanan kolektif masyarakat Jailolo terhadap colonial, yang saat itu sudah sedemikian menggurita di bumi Nusantara.

Di Porniti, satu dusun kecil di distrik Jailolo, pada 1914-1915, mereka menyongsong balatentara yang kuat, bagai Leonidas di Thermopelatea, sebuah cela sempit menuju tanah Yunani. Leonidas, dan kemudian juga Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala, adalah martir yang kukuh pada pendirian, hingga titik darah terakhir. Seperti juga Banau di Jailolo.

Cerita tentang Banau dan Jailolo, adalah kisah pilu orang-orang kecil yang menuntut hak mereka, kemerdekaan dari membayar pajak yang berat (blasting), dan hidup sebagai manusia merdeka. Merdeka dalam arti menjadi manusia utuh, bukan budak atau setengah budak. Demikian juga dengan Muhammad Usman Syah, yang rela menggantikan tahta kerajaannya dengan posisi sebagai orang buangan, karena konsekuensi dukungan diam-diam ke Kapitan dari Jailolo ini.

Tapi hari ini, kita hanya mengenal Banau tak lebih dari nama sebuah battalion tempur TNI AD yang bermarkas di Jailolo, sebuah battalion dengan nomor pengenal Yonif 732. Sebuah ironi yang pahit. Untungnya para petinggi TNI masih berbaik hati menamakan battalion tentara organic Maluku Utara dengan nama “Leonidas” dari Tuada ini.

Padahal di masa lalu, Jailolo (Gilolo), adalah penamaan terhadap pulau Halmahera, karena seluruh daratan pulau itu dikuasai oleh Katarabumi, raja Jailolo yang paling kuat. Dia disingkirkan dalam sebuah persekongkolan halus, dan anak cucunya digusur dari bumi Jailolo, setelah pralaya kedaton Tagalaya.

Jailolo, 20 Juli 2008


Tanggapan

  1. mantap..tulisan tentang BANAU,perlu di publikasikan di media, dan bila perlu di berikan ke kalbi rasid, biar tara ambor2 doi pigi ka balanda, cukup ka gamkonora cari ko ucili saja.. hahah… By. Lafdi

  2. terima kasih aldi. nanti tong bikin artikel yang lebih bagus la tong kirim di Malut Pos saja eh. kapan bale kamari? cari dokumentasi tentang Jailolo, termasuk Banau di Perpustakaan nasional e. salam

  3. Ko Ucili, kalau tong mau bikin artikel tentang banau jgn dipublikasikan ke malut post-, karena artikel banau yang akan torang kase maso pasti tidak akan dimuat, kalo hanya cerita tentang perjuangan fisik (gerakan perlawanan)terhadap penindasan yang dilakukan penjajah belanda ketika itu. Malut post akan mempublikasikan riwayat banau jika, ada sedikit ceritera yang menjelaskan tentang pemberian upeti masyarakat Halbar ketika itu kepada pihak belanda. Sehingga dorang (malut-post) bisa kejar “upeti” itu ke balanda, siapa tahu buruan terhadap upeti itu, dan pihak belanda mengembalikan sebagian upeti ketika itu, kan hasilnya nanti bisa menambah kesajhteraan karyawan/i malut post..hahahahaha…

  4. Ko ucili, Insya Allah aldi pulang Ka ternate tanggal 28 Agustus,Insya Allah nanti aldi lacak di perpustakaan nasional kalo ada dokumentasi tentang jailolo termasuk banau. Karena dua hari lalu, aldi tanya di petugas perpustakaan nasional, dorang bilang ada dokumentasi banau, cuman abang kalbi, ibu betty dgn mo duwila so ambe,modus operandinya dorang sambunyi didalam calana…hahahahaha

  5. iya, nanti tong cek data2 tentang Banau ini sama2 e. saya juga mau ke perpustakaan nasional, sapa tau tong lacak ulang sejarah Jailolo, termasuk Katarabumi, raja Jailolo yang terbesar dalam sejarah kerajaan Jailolo (Halmahera) itu.

  6. Uchi li…., Woe ente bailang dimana waktu kita pulang Ternate (11 s/d 22 Agustus 2008) waktu itu, telp di HP me tara angka….?!

    Bagaimana ente pe komentar dengan ana pe tulisan tentang Banau di Blog, kalau artikel itu saya sendiri menganggap sebagai kisah saja, tulisan tersebut belum disebut sebagai sejarah yang ilmiah, karena kalau dikatakan sejarah, harus melalui penelitian yang lebih ilmiah dengan menggunakan metode reseach. (Bahasan mengenai ini ente baca di artikel saya di blog tentang “Sejarah Tidak Pernah Berdusta”.
    Keterbatasan referensi yang saya dapatkan, termasuk “sekedar” cerita2 dari mulut ke mulut saja. Tapi apa salahnya saya posting di blog sejak tahun 2007 lalu itu, adalah Sejarah BANAU versi saya, sekedar untuk menambah khasanah tentang pahlawan BANAU dari Jailolo. Sudah ada beberap blogger Malut yang belakangan menulis juga tentang tokoh ini.

    Satu lagi yang paling menarik yang ingin saya sampaikan kepada ente yaitu bahasan mengenai raja Jailolo. Sekedar info, bahwa saat ini saya masih menyimpan salinan sisilah raja-raja Jailolo, yang ditulis di atas “old manuscript”, tulisan tangan sejak tahun 1856 yang bertepatan dengan 4 Rabbiul awal 1277 H yang ditulis oleh Jurutulis Lamo Kesultanan Tidore waktu itu Hasan ud-din dalam aksara Arab, dilengkapi cap kesultanan Tidore. Original paper-nya, saat ini ada di tangan salah satu warga kota Ternate yang meminta dirahasiakan identitasnya.

    Sisilah tentang raja-raja Jailolo ini adalah sebuah dokumen langka yang saat ini merupakan satu-satunya sumber tertulis yang yang ditemui. Semua sumber sumber sejarah tentang sejarah Jailolo di Leiden Museum Belanda, Museum Swedia, Museum di Inggris, dan dokumen Oxford University dan dokumen di Smithsonian Institute USA, tidak diketemukan dokumen seperti ini.

    Saya sudah dan hingga saat ini masih sering kontak / sharing dengan dua orang peneliti sejarah kerajaan2 di Indonesia, yaitu : Mr. D.P Tick gRMK dan Mr. Christoper Buyers termasuk Mr. Hans Hagerdal (coba ngana cari 2 nama ini di Google Search). Mereka berdua banyak menulis tentang seputar Kerajaan di Indonesia termasuk kerajaan Jailolo di Moloku Kie Raha. Mereka tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang sisilah raja-raja Jailolo ini, termasuk sisilah dari Sultan Abdullah Syah, yang diyakini adalah salah satu dari keturunan dari Prins Gugu Alam hingga Muhammad Asgar dan Hay ud-din yang dibuang ke Cianjur oleh Belanda pada tahun 1832. Mudaffar Syah kemudian mengambil sisilah keturunan dari sini untuk mengukuhkan Abdullah Syah sebagai Sultan Jailolo saat ini.

    Setelah sekian banyak komunikasi / sharing dengan kedua peneliti sejarah sejarah ini, saya mencocokan data dari beberapa tulisan mereka, yang kemudian saya sesuaikan dengan sisilah keturunan tersebut, maka terdapat banyak kesamaan. Dengan demikian menurut saya, untuk sementara saya menyimpulkan bahwa terdapat kejelasan dalam kajian ini bahwa Muhammad Arif Billa (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam). Sultan Gugu Alam alias Muhammad Arif Billa adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam (Bukan Sultan Gugu Alam – Ada beberapa kemiripan nama dalam sisilah ini) adalah adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Printah. Mereka bertiga adalah anak dari Sultan Yusuf, Sultan Jailolo yang ke-5 yang menjadi Sultan Jailolo di tanah Jailolo sekitar tahun 1500-an.

    Menurut data tersebut, Muhamad Arif Billa memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif Billa yakni Syah Yusuf adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di desa Tahane. Muhammad Arif Billa sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo adalah menjabat sebagai Sangadji Tahane, setelah itu selama sekitar 13 tahun menjabat sebagai Jogugu kesultanan Tidore sejak berkuasanya Sultan Kamaluddin (1784-1797) dari Tidore yang tidak lain adalah kakak dari Nuku. Ketika Nuku menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Billa adalah seorang panglima yang handal. Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo, tidak semua orang di pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo, lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai sultan Jailolo ini (sejak tahun 1637 hingga 1918) sat dibuang ke Cianjur mereka tidak pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, malinkan hanya menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera belakang termasuk juga juga di Seram.

    Wilayah kesultanan Jailolo sudah dilebur menjadi wilayah Ternate sejak tahun 1635. Beliau wafat di daerah Weda pada tahun 1807 karena kecelakaan. Putera tertuanya Muhammad Asgar diangkat menjadi Sultan Jailolo II, pada periode ke-2 ini. Periode pertama dari Kolano Daradjat dan berakhir pada Sultan Doa saja (Keturunan Sultan masih tercatat jelas dalam sisilah keturunan ini. Hal ini juga menjadi perhatian kedua peneliti ini untuk melakukan penelitiannya nanti di masa yang akan datang.

    Pada tahun 1810 Muhamad Asgar ditangkap Inggris karena tidak mengakui sebagai Sultan Jailolo, kemudian pada tahun 1817 diasingkan ke Semarang sekitar daerah Jepara. Tahun 1825 dikembalikan ke Maluku dan diangkat oleh Belanda lagi sebagai Sultan Jailolo dalam pengasingan yang berkedudukan di pulau Seram Maluku Tengah. Adik Muhammad Asgar yakni Kaicil Haji beserta pengikutnya menyusul ke pulau seram dan akhirnya diangkat Belanda menjadi Sultan Jailolo III dengan nama besar Sultan Syaif ud-din Jihad Muhammad Hay ud-din Syah. Karena perselisihan dengan pihak Belanda, akhirnya Sultan Jailolo III ini bersama dengan Jogugu Jamaluddin, Kapita laut Kamadian beserta seluruh keluarga berjumlah 60 orang diasingkan Belanda ke Batavia kemudian ke Cianjur. Beliau wafat pada tahun 1839 di Cianjur Jawa Barat. Akhirnya eksistensi Kesultanan Jailolo Tahap II inipun berakhir. Dan Maloku Kie Raha tinggal hanya 3 kesultanan saja, yaitu Ternate, Tidoredan Bacan. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa menurut saya dari penelusuran oleh Sultan Ternate saat ini (Sultan H. Mudafar Syah II) mengambil Abdullah Syah dan menobatkan menjadi Sultan Jailolo saat ini, adalah berasal dari keturunan di Cianjur ini. Selain itu penunjukan juga dilakukan secara ritual oleh Sultan Mudafar Syah II di Ternate.

    Upaya untuk menghidupkan kembali Kesultanan Jailolo Tahap III, pernah dilakukan oleh Dano Baba Hasan pada tahun 1876. Ia meminta pemerintah Belanda mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Menurut beberapa penulis, Dano Baba Hasan adalah kerabat keratin Ternate yang pada tahun 1832 diangkat oleh Sultan Ternate Muhammad Zain menjadi salahakan (Utusan
    Sultan) di pulau Seram. Tanggal 21 Juni Baba hasan mengakhiri usahanya dan menyerahkan diri kepada Residen Tobias, dan dideportasi ke Ternate dan akhirnya diasingkan ke Muntok di Sumatera. Menurut sisilah tersebut, Dano Baba Hasan adalah cucu dari Abdul Gani, saudara bungsu dari Muhamad Asgar dan Muhamad Hayuddin yang dibuang ke Cianjur tersebut.

    Setelah periode untuk menghidupkan Kesultanan Tahap III gagal, Upaya untuk itu dimulai lagi yakni pada periode IV dilakukan oleh Dano Jae ud-din di Weda dan Waigeo di Halmahera Timur pada tahun 1914. Seorang dano dari Ambon yang masih keturunan Dano Baba Hasan mengklaim dirinya sebagai ahli waris, memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Jailolo pada periode Tahap IV ini. Ia kemudian ditangkap belanda dan
    dipenjarakan di Ternate hingga akhir hayatnya. Demikian berakhir pula usaha untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap IV juga gagal. Perlu diketahui bahwa semua upaya untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo pada periode II, III dan IV, sama sekali buikan di wilayah kesultanan Jailolo yang sebenarnya, malinkan di tempat pengasingan di luar wilayah kultur kesultanan Jailolo itu sendiri.

    Upaya terakhir untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo Tahap V, saat ini dilakukan oleh Sri Sultan Ternate Sultan H. Mudafar Syah II dengan menobatkan Abdullah Syah yang menurut penelusuran adalah keturunan yang masih ada di Cianjur hingga saat ini masih tetap eksis untuk melengkapi salah satu pilar dari empat kesultanan yang pernah Berjaya di Maluku Utara pada masa lampau. Sebab kalo Cuma ada tiga
    saja, itu bukan berarti Maloku Kie Raha lagi, akan tetapi Maloku Kie Ra’ange.

    Demikian beberapa potong sharing saya melalui email dengan Mr. D.P. Tick gRMK dan juga Mr. Christoper Buyers.

    Mudah2an pada event SOUTH EAST ASIA ROYAL FESTIVAL di Bali nanti pada tanggal 25-30 November 2008 kami akan berusaha bertemu sehubungan dengan minat kedua peneliti ini untuk mengungkap apa yang mereka sebut ”The Hidden History” dimaksud.

    Beliau meminta lukisan atau gambar dari Dano Jae ud-din kalau ada dokumen tentang itu. (kalo ente punya silakan bantu saya), tapi nsaya rasa sulit mendapatkan gambar tentang Dano Jae ud-din yang mereka maksud. Beliau tertarik untuk meneliti pula tentang keturunan dari Dano Jae ud-din ini,
    kata Mr. D.P. Tick gRMK:
    “Interesting about the descendant of Dano Baba Hassan with name Dano Jae ud-din, who was regarded as dynastychief/heir in 1914. Do you know more about him ? A picture of him would be fascinating. I also would like to know, if the present Sultan is taken very seriously. Some say he is only a creation of Sultan ternate.
    Thank you for all. If you want, you can add some info under the picture of Sultan Jailolo on my website at :
    http://kerajaan-indonesia.blogspot.com”.

  7. wah tamang, komentar ente panjang lebar tentang Banau dan Jailolo, membuat saya teringat lagi akan catatan yang ilang waktu di Manado, 1995 silam. saya tidak menekuni sedalam ente yang memang menspesialisasikan diri di ilmu Sejarah. tetapi saya berterima kasih telah dikomentari. memang merunut sejarah, kisah tentang Jailolo terlalu panjang, dan minim dokumennya. diantara mereka yang menyimpannya adalah mereka yang masih menyimpan dokumen ini adalah mereka yang masih memiliki kaitan sejarah dengan para pewaris darah Jailolo. terima kasih kalau ente berbaik hati membagi dokumen itu dengan saya. hehehe, gratis tentunya.
    memang, Adnan Amal dalam kepulauan rempah-rempah juga telah menyinggung tentang Jailolo, tapi, tidak mendetail. so, apa yang ente deskripsikan ini dapat menjadi bahan menarik. di satu sisi, bahan ini sekaligus menjadi pembuka jalan bagi penelitian yang lebih serius tentang jejak raja-raja Jailolo, baik di Tagalaya (Jailolo sekarang), Halmahera Timur, dan Seram Timur. agar kisah tentang orang-orang yang selama ini selalu menyembunyikan identitasnya, dapat berkata jujur, kami adalah anak-anak pewaris negeri juga. terlepas dari itu, mantap tulisannya tentang sejarah. artinya, kita dapat melihat, sejarah tak pernah berada di titik netral. dia tak bebas nilai dan kepentingan.
    salam


Beri tanggapan

Your response:

Kategori