Oleh: rusli | Maret 16, 2008

Jejak Nista Kota Madani

Ini tulisan saya tentang seks bebas di Ternate 

Pelacuran dan seks bebas di kalangan anak sekolah dan mahasiswa, bukan cerita dongeng. Ia ibarat puncak gunung es dari beragam masalah di kota yang berjuluk madani ini, Ternate.

Film porno berdurasi satu setengah menit itu cukup membikin jakun orang tua naik turun. Bukan apa-apa, pelaku atau ‘bintang film’ di video yang beredar via sms itu, diindikasi salah satu siswa pada salah satu SMU elit di Ternate. Pelakunya pun melakukannya dengan sadar, sambil tersenyum. Kejadian awal tahun 2006 lalu itu, menyentak banyak kalangan di Ternate. Ternyata, dunia pendidikan yang disebut-sebut sebagai benteng moral, akhirnya bobol dan menghasilkan video syur sepasang remaja, yang di file-nya diberi judul, “Ternate Undercover”.

Film ini hanya awal dari mata rantai panjang perilaku seks menyimpang di kalangan muda Ternate. Belum lagi, kasus aborsi oleh seorang mahasiswi salah satu lembaga pendidikan tinggi agama di Ternate, melengkapi stigma, jejak Nista di Ternate, bukan kisah dongeng. Mawar (21 thn), sebut saja nama gadis ini, akhirnya dipanggil pihak kepolisian, pada tanggal 20 Mei silam.

Kisah yang berawal dari proses aborsi yang dilakukan Mawar, pada bulan April 2007 lalu, terbongkar. Janinnya dimakamkan di kompleks SMUN 6, daerah Akehuda Tanjung. Bersama pacarnya, yang juga mahasiswa sekolah tinggi agama ini, mereka didakwa melakukan tindak pidana pembunuhan atau pasal 299 KUHP, dan pasal berlapisnya aborsi, sebagaimana diatur dalam pasal 338 KUHP.

Ternyata film pendek anak sekolah itu bukan film pertama di Ternate. Sebelumnya, sebuah film durasi pendek dengan bintang salah satu PNS, juga beredar luas di Ternate. Terakhir, gambar cabul dengan wajah milik salah satu pegawai Perusahaan Daerah di Ternate, ikut meramaikan peredaran gambar porno di kalangan luas. Ini kisah nyata, yang terjadi di kota Ternate, yang dikenal sebagai kota yang mengusung konsep kota Madani, yang konon kabarnya diadaptasi dari konsep Nabi Muhammad saat membangun Yatsrib.

Belum lagi transaksi seks yang terjadi tiap malam, di berbagai tempat, dengan beragam modus, seakan menegaskan, betapa pergeseran moral telah terjadi begitu jauh. Seakan, perselingkuhan, prostitusi, dan perbuatan seks menyimpang, adalah satu keniscayaan. Bagaimana fakta itu mencuat, dan itu kemudian membenarkan, perilaku seks bebas telah menjadi sebuah lorong  gelap dunia para lelaki hidung belang.

Laporan hasil penelitian tiga dosen muda di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, pada akhir tahun 2006, tentang perilaku seks di kalangan pelajar SMU, lebih melengkapi keterkejutan warga Ternate. Ada kurang lebih 12,7 persen dari 1076 sampel, atau sekitar 137 siswa SMU, ternyata pernah melakukan seks bebas. Entah itu dengan pacar, teman, saudara, bahkan dengan pekerja seks.

Dari segi usia, ternyata pengalaman berhubungan layaknya suami istri, telah dilakukan anak-anak ini sejak usia yang masih sangat dini. Dari 137 siswa dan siswi SMU ini, 21,9 persen sudah melakukan di usia antara 12 hingga 14 tahun. Sementara yang terbesar, 73 persen, mengaku sudah melakukan hubungan badan dengan lawan jenis di usia 15 sampai 17 tahun.  Hanya 2,2 persen yang melakukan di atas usia 17 tahun.

Studi ilmiah tiga dosen muda dari UMMU Ternate di 17 SMU dan sederajat di kota Ternate, yang dipimpin Tati Sumiati, SKM ini hanya menegaskan dengan jelas gambaran wajah kota Ternate kini, dalam bentuk yang paling kelam. Bukan rahasia lagi, perilaku seks menyimpang ini telah melahirkan generasi pelajar sekolah menengah yang disebut dengan toteba, yang memandang, berhubungan seks tak lebih dari proses jual beli. Bukan lagi sekadar just for fun.

Bagi yang terang-terangan, memang sudah melakoninya sebagai sebuah pekerjaan. Secara kebahasaan saja, ada legitimasi, mereka adalah pekerja seks komersial (PSK). Mereka ini dengan mudah dijumpai dalam transaksi yang “wajar” di dunia malam.  Gaya dandanan juga dapat memberi sinyal, mereka memang—maaf—menjual diri. Tapi bagi pekerja seks terselubung, ini yang sulit dikenali. Mulai dari mahasiswa, hingga anak SMU, bergerak dalam jaringan yang sangat tertutup. “Jika Anda butuh, saya punya ‘ayam’ yang pelajar itu ada sekitar lima orang,” ujar Andi, sebut saja begitu, bencong yang menjadi germo ini.

Tapi bukan gampang melacak jejak mereka. Kalau sudah ketemu germo-nya, kita baru bisa bicara apa mau pelanggan. Setelah ada deal, Andi dapat dengan mudah menghubungi mereka, dan menentukan lokasi mana yang harus dituju anak sekolah ini. Kebanyakan bergerak di hotel-hotel kelas atas di Ternate, dan dianggap aman dari perhatian masyarakat.

Tak ada pembicaraan awal sebagaimana biasa transaksi seks. Semua serba tertutup. Penelusuran GENTA menemukan, tariff anak sekolah ini bervariasi. “Kalau mau booking satu malam, harganya dua juta. Tapi kalo Cuma short time, standarnya lima ratus ribu,” jelas germo yang berusia sekitar 20-an tahun ini.

Ini hanya bagian kecil dari operasi malam para pelaku seks bebas di kalangan anak muda. Sayangnya, jejaknya ada, namun susah ditemukan. Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kota Ternate, Juhdi Taslim, mengakui, ia juga mendengar informasi adanya siswi SMU/SMK yang dibawa pria hidung belang ke hotel-hotel atau penginapan tertentu dengan bayaran tertentu pula.  

 Tapi hingga saat ini belum ada yang tertangkap tangan. Penelurusuran tim GENTA menemukan, jaringan pekerja seks dari kalangan pelajar ini menggunakan cara-cara yang sangat lihai. Jika salah satu terungkap, serentak jaringan lainnya diputuskan, sehingga sulit melacaknya.

Tapi Taslim menjelaskan, ia telah memanggil pihak sekolah dan memberi arahan agar pengawasan terhadap siswa lebih dimaksimalkan. Ini terkait dengan visi Diknas Kota Ternate, mewujudkan pendidikan yang berkualitas menuju masyarakat berbudaya dan masyarakat madani. ”Konteks pendidikan yang berkualitas dalam persoalan ilmu pengetahuan dan tekonologi serta iman dan taqwa. Oleh karena itu dalam misi Diknas yaitu pertama: meningkatkan akhlak ketakwaan kepada anak-anak didik,” terang Taslim.

Tapak Dua

Yang menonjol hanya pelaku profesional. Daerah Tapak Dua, diskotik yang berkedok café, restoran umum, dan hotel-hotel adalah kawasan yang sering menjadi tempat nongkrong para pekerja malam ini. Di depan Mesjid Muhajirin, Falajawa, dan kawasan Mesjid Raya, adalah lokasi yang sering dipilih menjadi lokasi mejeng, bahkan transaksi terselubung.

Data Dinkes Prov Malut yang dikutip Malut Pos edisi 17 Pebruari 2007 menyebutkan 25 orang terkena HIV di Maluku Utara. Terbanyak ternyata dari kalangan muda. Wajar jika banyak kalangan kuatir terhadap fenomena yang terjadi di kota Ternate.

Masalah ini mencuat diakibatkan beberapa faktor penting. Jubair Situmorang, Pembantu Ketua III STAIN Ternate menyebut efek pergaulan bebas dan free sex di kalangan  mahasiswa dan kampus sebagai bagian dari lompatan budaya secara luar biasa, dan tak mampu direduksi masayarakatnya. Ketika lompatan budaya itu terjadi, sebagian orang kemudian melakukan langkah coba-coba, dan akhirnya tak bisa keluar lagi dari jeratan ini.

“Kalau kita katakan ini persoalan pendidikan sebenarnya tidak juga, karena telah banyak inovasi yang dilakukan sudah cukup bagus, fenomena sekarang pembinaan keagamaan di SMP dan SMA itu luar biasa, akan tetapi lembaga pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, ketika kemudian kultur di masyarakat tidak bersinergi dengan apa yang dilakukan dikampus atau lembaga pendidikan. Sebelumnya memang kita akui dari sisi metodologi masih lemah guru-guru agama kita. Tetapi sekarang luar biasa tidak hanya mengajarkan bahwa kebersihan itu bagian dari pada iman, tetapi sekarang lebih pada bukti’”, jelas Situmorang.

Lelaki yang juga menjabat sebagai ketua komisi fatwa MUI Kota Ternate ini memaparkan, dari perencanaan visi kota, sudah keliru sejak awal. Baginya, Ternate sendiri sudah lebih Madani awal, dengan konsep adat se atoran. Da itu diiyakan Drs. Mudaffar Syah, sultan Ternate. Tokoh adat Ternate Ternate ini mengaku, pergeseran budaya memang sudah jadi fenomena nasional. Tapi menurutnya, jika perencanaan tentang pembinaan masyarakat tidak memiliki konsep yang jelas, maka lebih kacau lagi. “Masyarakat  kita, utamanya anak muda, akan jadi korban,” jelas politisi PDK yang kini duduk di kursi DPR RI ini.

Ia menyebut, konsep madani sendiri tidak punya rumusan yang jelas. “Kalau kita menyebut kota pelangi itu masih dapat di terima, berdasarkan adat dan strata masyarakat kita, yang terdiri dari berbagai suku, sehingga kalau PELANGI, pergaulan masyarakat itu akan membentuk suatu keharmonisan dan keindahan barangkali bisa dijelaskan seperti itu, dan kalaupun madani sekarang kita mau menjelaskan apa?,” tegasnya.

Menyorot maraknya peredaran video porno dan seks bebas serta pelacuran, ia menyarankan agar adat se atoran dapat dijadikan rujukan. Dengan demikian, lanjut pewaris tahta kedaton ini,  anak muda tidak mengalami apa yang diistilahkan dengan shock of culture.

Namun Syamsir Andili, walikota Ternate, menepis hal itu. Pada satu sisi ia mengakui bahwa adat se atoran adalah filter. Ia bahkan mengatakan, saat ini pemerintah kota telah melakukan langkah-langkah konstruktif dengan menerbitkan PERDA-PERDA yang mengatur tentang masalah ini. “Rancangan PERDA telah diserahkan ke DPRD. Prosesnya tinggal dilakukan DPRD sendiri,” jelas Syamsir, yang telah menjabat walikota Ternate dua periode ini.

Tapi Syamsir lebih menekankan pada aspek pembinaan keluarga. Sambila mengutip ayat Al-Qur’an, ia menegaskan, seharusnya pendidikan akhlak dimulai dari keluarga. Soal tudingan Pemkot sengaja menjadikan dunia malam sebagai bagian dari strategi meraup dana, ditepisnya juga.”Sumber PAD kita tidak berasal dari situ. Kita juga tidak bikin lokalisasi,hal itu dapat terjadi kalau ada lokalisasi,” tegasnya.

Laporan : Moehdar dan Darmin

 


Tanggapan

  1. Gaya tulisan Abang Bagus bangat…Oya, kalau menurut Abang solusinya seperti apa tuk mengatasi semuanya ini ?la wong Pak Syamsir Jawabnya kayak gitu….punya kinginan lokalisasi kaliya?

  2. Tangkap kong arak kase talanjang di jalan tapak Ternate, saja biar kapok..

  3. saya sebagai mahasiswa asl ternate yang skarng sdang menimbah ilmu di bandung, stelah saya membaca biografi tentang kota ternate saya sangat prihatin dengan kndisi kota ternate yang menjadi lahan protitusi ini merupakan suatu ancaman yang sangat bsar bagi kota ternate dan sekitarnya, untk itu perlu adanya ketegasan dari pihak-pihak yang terkait agar hal ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang


Beri tanggapan

Your response:

Kategori