Tak ada yang menyangka, gereja Santo Willibrordus atau gereja Batu, gereja Katolik Roma di Ternate, pernah memakai sebuah artefak sejarah yang tak ternilai harganya. Sebuah lonceng gereja, yang dibuat di tahun 1603 di Goa, India, oleh seorang pakar pembuat genta asal Portugal ternama, Perrio Diaz Beccora.
Genta itu dikirim ke Ternate dan dipakai untuk kegiatan evangelista di bumi Maluku. Oleh penguasa Portugis di Ternate, lonceng gereja itu digantung di gereja yang ada di benteng Castillia Nosta Senhora del Rosario, atau benteng Gammalamo.
Sampai datang kolonialis Belanda, genta keramat itu dipindahkan ke benteng Fort Oranje, atau benteng Malayu. Bertahan cukup lama, sampai tahun 1950-an awal, seorang anggota TNI asal pulau Jawa berpangkat Bintara, memerintahkan genta itu dipindahkan ke gereja Katolik, yang sekarang dikenal dengan nama gereja Batu.
Sejak saat itu, tiap ibadah ummat Kristiani, genta itu dibunyikan untuk memanggil ummat agar datang beribadah memuji Tuhan.
Sampai akhir tahun 1999, saat pergantian abad, dalam kerusuhan besar, genta itu tiba-tiba menghilang. Cukup lama, akhirnya ditemukan di tangan seorang kolektor benda antik. Walikota Ternate saat itu, Syamsir Andili, kemudian menebus asset warisan budaya milik Ternate itu, dan membawa kembali ke Ternate. Sekarang, genta itu tak lagi dipakai sebagai lonceng gereja. Ia disimpan sebagai asset bernilai sejarah tinggi.
Di atas lonceng itu, diukir satu untai kalimat indah:
O’Maria Flos Viriginum
Funde Pieces ad Filium
Velut Rosa vel Lilium
Pro Saluta Fidelium.
(Perio Diaz Boccaro, 1603)
Semoga asset sejarah ini makin memperkaya khasana sejarah kita.