Oleh: rusli | Desember 22, 2009

Pada Ibuku

Di ufuk yang tinggi
Kau rentang tangan sayap kasihmu
Rengkuh alam penuh amarah.
Di lautan rahimmu
Kami reguk nafas hidup dan cinta
Yang teduhi gelora nafsu dan angkara.
Wahai pelita hidup
Bau nafasmu adalah aroma surgawi .
Tubuh ringkihmu
Adalah pondasi jagad manusia.
Di ufukmu seharusnya kau angkuh.
Tapi tidak
Kau justru menjadi sumber
Juga muara semua derita hidup.
Ibu,
Kaulah bunga surgawi
Yang terus bertahan meski kian meredup.
Ternate, 20 Desember 2009

Oleh: rusli | Desember 2, 2009

Sajak-sajak Bumi Banau

Giup dan rorehe sudah karam dimakan jaman
Parang dan salawaku sudah disimpan lama di para-para
Tak ada lagi bau manyiang deng asap dupa
Serta puja-puji di pucuk sasadu.
Semangat jaman sudah berubah
Kolano tak lagi berumah di Tagalaya
Di sana kini su jadi ladang sengketa
Putra-putra negeri yang berdiri
Dan berbaris sebagai Banau-Banau muda
Sudah tak lagi Nunau
Karena semua su bapikir
Hari ini makan di mana, beso mo makan pa sapa
Di kiri salawaku, di kanan so bukan lagi kalawai atau sagu-sagu.
sekarang su ganti deng komputer
wahai dotu-dotu di rimba Halmahera, para momole, moro dan wonge
air mata ini tak mampu ditampung di sasadu
bahkan Jiko Jailolo su tara mampu tahan

wahai Kolano Katarabumi,
penakluk Kastela dan Frangka,
di bumi Moro dan Hali Ma Hera
dukung aku yang tengah berpacu
Wahai Kaicili Alam dan segenap pewaris Tagalaya
Mari sama-sama angkat peda deng salawaku
Bakar manyiang di atas dupa
Tarikan Cakalele mari ber-canga
Kita lawan gelombang raksasa yang ingin hapus jejak ini
Biar perahuku hanya giup tua, bukan juanga perang
Tapi semangatnya melebihi seribu Juanga Katarabumi
Mari kembali ke tanah asal, tanah tempat dodomi ditanam
tanam dan semai kembali hasrat dan semangat,
jangan biarkan dibunuh nafsu angkara.
Jailolo, 31 Nopember

Keterangan:

giup dan rorehe: jenis perahu nelayan yang juga dipakai sebagai perahu pengintai jaman perang dahulu.

para-para: tempat menyimpan barang, juga sebagai tempat mengeringkan kelapa jadi kopra.

sasadu: rumah adat di Halmahera Barat

momole: penguasa awal halmahera

moro: kaum yang tak terlihat, sejenis jin

wonge: juga mahluk halus yang sering dipuja masyarakat primitif dulu

dodomi: placenta, tali pusar,

Kastela dan Frangka: penamaan terhadap Portugis dan Spanyol oleh orang tua2 di Halmahera masa lalu

Canga: merompak penjajah di lautan.

Cakalele: tarian perang .

Tagalaya: ibukota Jailolo masa awal

Kolano Katarabumi: raja Jailolo yang mengusir Portugis di masa Hairun dan Babullah, di Moro dan Halmahera Utara lainnya di masa Portugis

Oleh: rusli | November 2, 2009

Perjalanan Genta Keramat

Tak ada yang menyangka, gereja Santo Willibrordus atau gereja Batu, gereja Katolik Roma di Ternate, pernah memakai sebuah artefak sejarah yang tak ternilai harganya. Sebuah lonceng gereja, yang dibuat di tahun 1603 di Goa, India, oleh seorang pakar pembuat genta asal Portugal ternama, Perrio Diaz Beccora.
Genta itu dikirim ke Ternate dan dipakai untuk kegiatan evangelista di bumi Maluku. Oleh penguasa Portugis di Ternate, lonceng gereja itu digantung di gereja yang ada di benteng Castillia Nosta Senhora del Rosario, atau benteng Gammalamo.
Sampai datang kolonialis Belanda, genta keramat itu dipindahkan ke benteng Fort Oranje, atau benteng Malayu. Bertahan cukup lama, sampai tahun 1950-an awal, seorang anggota TNI asal pulau Jawa berpangkat Bintara, memerintahkan genta itu dipindahkan ke gereja Katolik, yang sekarang dikenal dengan nama gereja Batu.
Sejak saat itu, tiap ibadah ummat Kristiani, genta itu dibunyikan untuk memanggil ummat agar datang beribadah memuji Tuhan.
Sampai akhir tahun 1999, saat pergantian abad, dalam kerusuhan besar, genta itu tiba-tiba menghilang. Cukup lama, akhirnya ditemukan di tangan seorang kolektor benda antik. Walikota Ternate saat itu, Syamsir Andili, kemudian menebus asset warisan budaya milik Ternate itu, dan membawa kembali ke Ternate. Sekarang, genta itu tak lagi dipakai sebagai lonceng gereja. Ia disimpan sebagai asset bernilai sejarah tinggi.
Di atas lonceng itu, diukir satu untai kalimat indah:

O’Maria Flos Viriginum
Funde Pieces ad Filium
Velut Rosa vel Lilium
Pro Saluta Fidelium.
(Perio Diaz Boccaro, 1603)
Semoga asset sejarah ini makin memperkaya khasana sejarah kita.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori