Oleh: rusli | November 2, 2009

Perjalanan Genta Keramat

Tak ada yang menyangka, gereja Santo Willibrordus atau gereja Batu, gereja Katolik Roma di Ternate, pernah memakai sebuah artefak sejarah yang tak ternilai harganya. Sebuah lonceng gereja, yang dibuat di tahun 1603 di Goa, India, oleh seorang pakar pembuat genta asal Portugal ternama, Perrio Diaz Beccora.
Genta itu dikirim ke Ternate dan dipakai untuk kegiatan evangelista di bumi Maluku. Oleh penguasa Portugis di Ternate, lonceng gereja itu digantung di gereja yang ada di benteng Castillia Nosta Senhora del Rosario, atau benteng Gammalamo.
Sampai datang kolonialis Belanda, genta keramat itu dipindahkan ke benteng Fort Oranje, atau benteng Malayu. Bertahan cukup lama, sampai tahun 1950-an awal, seorang anggota TNI asal pulau Jawa berpangkat Bintara, memerintahkan genta itu dipindahkan ke gereja Katolik, yang sekarang dikenal dengan nama gereja Batu.
Sejak saat itu, tiap ibadah ummat Kristiani, genta itu dibunyikan untuk memanggil ummat agar datang beribadah memuji Tuhan.
Sampai akhir tahun 1999, saat pergantian abad, dalam kerusuhan besar, genta itu tiba-tiba menghilang. Cukup lama, akhirnya ditemukan di tangan seorang kolektor benda antik. Walikota Ternate saat itu, Syamsir Andili, kemudian menebus asset warisan budaya milik Ternate itu, dan membawa kembali ke Ternate. Sekarang, genta itu tak lagi dipakai sebagai lonceng gereja. Ia disimpan sebagai asset bernilai sejarah tinggi.
Di atas lonceng itu, diukir satu untai kalimat indah:

O’Maria Flos Viriginum
Funde Pieces ad Filium
Velut Rosa vel Lilium
Pro Saluta Fidelium.
(Perio Diaz Boccaro, 1603)
Semoga asset sejarah ini makin memperkaya khasana sejarah kita.

Oleh: rusli | November 1, 2009

Sumpah Tanah Putih untuk Bidadari

Hari Pemuda 28 Oktober kali ini diperingati KNPI dan Kantor Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Halmahera Barat dengan acara unik, upacara di kawasan konservasi Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii sp). Ada beberapa hal positif yang dapat dicatat dari upacara ini. Pertama, kawasan Bukit Tanah Putih ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Kedua, penduduk desa di kaki bukit Tanah Putih yang selama ini concern dengan perlindungan burung langka dari Halmahera ini, mendapat penghargaan.
Artinya, sumpah pemuda kali ini dimaknai sebagai kepedulian pemuda dan Pemda Halmahera Barat terhadap kelestarian alam, utamanya menyelamatkan salah satu hewan endemik Halmahera ini dari ancaman kepunahan. Sekaligus mengingatkan kita, betapa kekayaan alam yang satu ini sudah berada di ambang kepunahan yang serius. Baca Lanjutannya…

Oleh: rusli | Oktober 18, 2009

Rindu

Ini rindu,

adalah asa yang terlepas dan pupus

menjelang fajar beranjak

saat hasrat dan birahi bergejolak bagai dalam bejana

seperti gelegak magma di kawah Gamalama

pada subuh menjelang pagi

dan pergi, bagai embun di daun talas disiram mentari pagi.

Jailolo, 12 Oktober 2009

Tulisan Sebelumnya »

Kategori