Tak selamanya sesuatu berjalan linear. Dalam hidup, beragam masalah muncul dan menjadi bagian dari kemanusiaan kita. Termasuk bencana alam.
Meskipun bencana alam sudah sesuatu yang given, tak kemudian kita menganggap semua itu semata takdir Tuhan. Bencana tak semata dipahami sebagai punishment dari Tuhan pada kita. Ada ruang-ruang yang memungkinkan kita dapat membaca tanda-tanda alam, maupun mengantisipasi dampak besar bencana alam.
Pemerintah kita selama ini punya beragam program tanggap bencana. Semuanya dimaksudkan untuk mengantisipasi dan meminimal jumlah korban dampak bencana. Saat yang sama, selalu saja ada ruang kosong yang menjadi penyebab korban bencana tak mudah diakses pemerintah.
Fakta ini klop dengan antagonisme alam, yang memancarkan dua wajah berbeda tapi bagai sebuah mata uang. Satu sisi alam memberi kemudahan akan kekayaan alam berupa energi dan kekayaan alam hayati. Paradoks dengan wajah seram bencana yang begitu bengis dan tak kenal ampun pada mahluk apapun yang hidup di permukaannya. Kondisi alam kita dengan tingkat curah hujan yang tinggi (hutan hujan tropis), dan bentangan pegunungan vulkanisnya, memberi peluang bagi kita untuk untuk merasakan bengisnya alam lewat kemampuan kita untuk mengukur dan merasakan langsung seperti apa murka alam. Baca Lanjutannya…
Bencana
Ditulis dalam Tak Berkategori
Festival Teluk Jailolo
Teluk Jailolo sudah dikenal sejak abad kesepuluh masehi. Ketika raja-raja Jailolo mulai memerintah di wilayah Porniti maupun Tuanane, semua ibukota kerajaan Halmahera ini selalu menghadap ke Teluk kecil ini. Teluk ini ini dilindung sebuah pulau kecil, yang dikeramatkan oleh penduduk setempat, karena di sini, sultan Jainal Abidin dan saudaranya, Sultan Yusuf, berebut mahkota kerajaan hingga berakhir pada terbunuhnya Jainal Abidin. Jasadnya kabarnya dilarung di perairan depan pulau kecil ini.
Di teluk ini pula dulu, di pertengahan abad kelimabelas, raja Katarabumi atau Kolano Tarkibun dari Jailolo, berjuang dengan gagah perkasa namun akhirnya takluk setelah diblokade Ternate dan Portugis selama tiga bulan hingga rakyatnya kelaparan dan kehabisan logistic perang. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Tak Berkategori
Ohongana Manyawa, Penguasa Rimba yang Tersisih
Togutil, komunitas local Halmahera, sudah mendiami pedalaman Halmahera selama ratusan tahun. Selama ini mereka identik dengan julukan penguasa rimba. Komunitas dengan populasi yang kian menyusut ini menggunakan bahasa Tobelo Dalam atau Tobelo Halus dalam komunikasi keseharian mereka.
Sedikit banyak mereka punya kemiripan dengan suku Alifuru yang mendiami pulau Seram, sehingga sebagian orang menjuluki Alifuru Halmahera. Tapi, menilik bahasanya, sebagian masyarakat local Halmahera menyebut mereka sebagai Tobelo hutan atau orang hutan. Julukan dalam bahasa Tobelo (bahasa yang juga dipakai komunitas ini) adalah, Ohongana manyawa atau penghuni rimba. Mereka lebih suka dengan sebutan ini ketimbang nama Togutil. Darsis Huma, dekan Fakultas Hukum UMMU Ternate dalam satu diskusi dengan penulis menyebut bahasa mereka sangat halus dan kadang sulit dipahami Tobelo pesisir. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Tak Berkategori
Komentar Terakhir