Togutil, komunitas local Halmahera, sudah mendiami pedalaman Halmahera selama ratusan tahun. Selama ini mereka identik dengan julukan penguasa rimba. Komunitas dengan populasi yang kian menyusut ini menggunakan bahasa Tobelo Dalam atau Tobelo Halus dalam komunikasi keseharian mereka.
Sedikit banyak mereka punya kemiripan dengan suku Alifuru yang mendiami pulau Seram, sehingga sebagian orang menjuluki Alifuru Halmahera. Tapi, menilik bahasanya, sebagian masyarakat local Halmahera menyebut mereka sebagai Tobelo hutan atau orang hutan. Julukan dalam bahasa Tobelo (bahasa yang juga dipakai komunitas ini) adalah, Ohongana manyawa atau penghuni rimba. Mereka lebih suka dengan sebutan ini ketimbang nama Togutil. Darsis Huma, dekan Fakultas Hukum UMMU Ternate dalam satu diskusi dengan penulis menyebut bahasa mereka sangat halus dan kadang sulit dipahami Tobelo pesisir. Baca Lanjutannya…
Ohongana Manyawa, Penguasa Rimba yang Tersisih
Ditulis dalam Tak terkategori
Hasil Tambang NHM Lari Kemana
Sukses tambang emas di Gosowong dan Nikel di Aketajawi, seharusnya menjadi rahmat yang luar biasa. Keuntungan yang mengalir ke daerah ini harus jelas. Kenyataannya, keuntungannya bagi rakyat Maluku Utara ibarat pepatah, jauh panggang dari api: tak jelas. Sejauh ini, yang jelas hanya pendapatan dari galian C yang masuk ke Halmahera Utara. Itupun pertahun hanya sedikit. Di tahun 2011 ini, lewat perjuangan yang panjang, barulah Halut bisa menerima Rp. 75 milyar, baik dari galian C maupun sumbangan pihak ketiga dan CSR/Comdev. Selebihnya masuk berupa royalty ke kas Negara.
Sementara bagi Halmahera Barat sendiri, yang hanya sejengkal dari kawasan eksploitasi Gosowong, hasilnya tak sebanding dengan dampak lingkungan yang harus diterima warganya. Bahkan beberapa laporan warga menyebutkan, lahan mereka sudah berada di kawasan tambang. Suara ledakan dinamit sudah mulai mengganggu masyarakat Ibu yang berdiam di wilayah pedalaman. Dengan sendirinya ada pertanyaan besar, lantas kemana retribusi galian C untuk kabupaten miskin ini, jika penambangan sudah masuk wilayah Halbar? Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam 1
Pada Gadis Kembara
Sekedip malam angin bertiup lembut
Wajah pualam tengada ke langit kelam
Aroma melati menyebar tuju petala langit
Merapat sendu kian mengalun
Tak juga risau pada takdir
Gadis sunyi menenteng kamera
Meski letih tak hentikan langkah
Pada sunyi dia menyapa
Pada alam angannya melara
Semua kembara telah menjadi fatamorgana
Seperti air melarutkan serapah
Dan malam berlalu tanpa keluh
Dirinya adalah sepi yang tak berujung
Meski menapak di dedaunan luruh.
Ternate, 21 April 2011
Ditulis dalam Tak terkategori
Komentar Terakhir