Oleh: rusli | Juli 11, 2009

Di Kaki Bukit Domato

Seekor burung indah kepakkan sayapnya

Di pagi nan indah, di puncak bukit Tanah Putih

Sejenak ia menari, lalu melejit pergi

Menyepi,

Di tepian sungai kaki bukit

Menunggu pasangannya, bercengkerama, mengais makanan

Dari sisa-sisa kayu

Yang roboh dihajar mesin chain shaw

Dari kaki bukit ini

Kicau burung makin jarang

Karena anak negerinya tak peduli lagi dengan kekayaan alamnya

Yang tersisa hanya langit yang berwarna merah tembaga

Mungkin nanti,

Kita hanya menyaksikannya di catatan seorang naturalis

Yang ratusan tahun lalu, bersusah payah datang ke negeri nan indah ini

Meski harus naik giup dan rorehe

Demi bakti pada alam dan ilmu

Kini, di kaki bukit Domato

Yang tinggal hanya serakah dan nista atas alam.

IMG_6383

Sidangoli, 5 Mei 2009

Oleh: rusli | Juni 25, 2009

Di Atas Mesjid Sigi Lamo

(catatan untuk renovasi Mesjid Sultan Ternate)

Di sini, ada sebuah gedung tua yang menyimpan cerita

Kisah tentang datangnya para penyebar agama

Sejak  jaman  Sida Arif Malamo hingga Zainal Abidin dan Babullah yang Agung

Aku terpaku sejenak, Sebuah gambar tua di tanganku, sudah tak nampak lagi

Ada bangunan baru yang berbeda dengan gambar

Yang konon harus dirobah demi titah seorang,

Yang kuasanya melebihi kuasa Boki Nukila,

Bahkan kuasa para Momole………….

Di mihrabnya yang Agung Alunan ayat Qur’an kian melemah

Karena yang sakral dari tempat bertuah ini,

harus dihilangkan

Demi menyenangkan hati sang Permaisuri

yang kuasanya melampaui Ratu Gung Binatara

dan bermimpi ingin jadi penguasa monarkhi absolut

di sebuah negeri yang berdiri di atas altar monarkhi konstitusional

Di sisa tingkap mesjid tua itu, kutangkap seraut wajah tua

wajah seorang bala

usai sholat memandang ke samping mesjid

dia berujar lemah: apa yang salah dari negeri ini,

kenapa semua tradisi baik dan jejak sejarah harus dihilangkan?

Gamalama, 18 Juni 2009

Catatan :

Boki : Putri dan permaisuri Sultan

Bala : Rakyat jelata

Sigi Lamo : Mesjid Besar/Agung

Momole : Peguasa Ternate awal

Oleh: rusli | Juni 2, 2009

Jailolo, Halmahera, dan Batucina de Moro

Rusli Djalil *)

Tulisan ini saya buat setelah lama merenungi komentar kawan saya Busranto Abdullatif, salah satu blogger terbaik yang mengkhususkan diri menulis tentang Maluku Utara dan segala pernik-perniknya. Sebagian bahannya memang diambil dari komentar anak perantau asal Dufa-Dufa ini. Dia menulis khusus sejarah raja-raja Jailolo, sampai awal abad 20 lalu oleh seorang yang mengaku keturunan raja-raja Jailolo, Dano Jae Udd Din di daerah Halmahera Timur dan mengklaim takhta yang telah lama ditinggal penerusnya. Ditambah diskusi dengan kawan-kawan dosen di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, dan kritikan dari Dino Umahuuk, sastrawan asal Selat Capalulu, yang sekarang lagi naik daun di blantika sastra Indonesia.
Artikel ini saya dedikasikan untuk kampung halaman saya, Halmahera Barat, yang hampir melupakan sejarah negeri leluhurnya sendiri, hanya karena sejarah negeri ini telah dihapus dari catatan oleh kolonialisme Barat, maupun friksi antar kerajaan di Maluku Utara. Kemudian, makin ironis, karena sejumlah program menelusuri jejak kesultanan Jailolo maupun Banau, akhirnya buntuh. Program yang ada tak lebih dari upaya proyek menghabiskan anggaran. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori